Rabu, 05 Februari 2014

SAATNYA MEMBENAHI TAKDIR


Saat seorang terkapar dengan penderitaan, maka terbersit dalam benaknya apakah ini sebuah musibah atau sebuah ujian. Kejadian yang begitu saja menimpa entah itu berupa sakit yang berkepanjangan, mendadak kena tipu orang atau kecelakaan yang merenggut nyawa bisa jadi memang karena keteledoran kita, atau sekiranya kita sudah demikian hati-hati pun maka bila ia telah dituliskan maka pasti tidak akan dapat dielakkan Allah SWT berfirman dalam Surat Asy Syuuaraa ayat 30, bahwa sesungguhnya setiap musibah yang menimpa tidak lepas dari kesalahan kita dan Dia adalah Maha Pengampun atas kesalahan, apalagi sebagai manusia, memang tidak akan pernah lepas dari kesalahan-kesalahan. Namun disisi lain Allah pun menegaskan tiada suatu bencana yang menimpa di bumi (tidakpula) pada dirimu sendiri, melainkan ia telah tertulis di dalam kitab (Lauhil Mahfudz) sebelum Allah menciptakan alam semesta ini (Q.S Al Hadid:22).

Entah bagaimana musibah itu terjadi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya bukan?. Takdir tentu bukan hal yang untuk di amalkan, lebih dalam bahwa takdir adalah untuk diyakini. Entah berapa besar musibah maka seharusnya ia tidak dapat merenggut optimisme dalam dada kita sebagai seorang muslim. Ada satu hal yang menarik dari perintah Allah mengenai wajibnya berpuasa. Perintah puasa ini bisa kita simak dalam Surat Al Baqarah ayat 183-187, namun dalam ayat 186 Allah justru menyelipkan ayat tentang doa diantara ayat mengenai perintah puasa. Disana Allah memperkenalkan dirinya bahwa walau indra manusia tidak bisa meraba dan menyapa-Nya namun Dia adalah dekat. “ dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”

. Bila kita hendak mengkajinya barang sebentar maka hal ini tentu bukan barang kebetulan, ada rancangan yang sudah Allah persiapkan. Sebagaimana susunan ayat diatas, maka keberadaan kita di bulan Ramadhan tahun ini tentu bukanlah kebetulan. Kita merupakan banyak orang diantara mereka yang lolos dari seleksi panggilan malaikat maut. Pastilah Allah berkehendak pertemuan kita dengan Ramadhan tahun ini akan membuahkan permata yang indah bagi kehidupan amaliah kita. Dengan menyatunya ayat Ramadhan dengan ayat doa maka Allah berkehendak agar saat inilah kita memperbanyak doa kita, sehingga tidak salah bila dikatakan bahwa Ramadhan adalah bulan dipanjatkannya doa. Setidaknya ada beberapa faktor lain yang menguatkan selain dari susunan ayat tadi. Rasulullah SAW pernah bersabda “Tiga doa yang tidak ditolak; doa orangtua terhadap anaknya, doa orang yang sedang puasa, dan doa seorang musafir.” HR Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Albani. Lantaran puasa kita Allah menjadikan doa kita tanpa hijab. Lantas apa hubungan doa ini dengan musibah yang kita singgung dimuka?. Saudaraku dari surat Al Baqarah 186 diatas kita belajar bahwa doa yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan oleh Allah. Setelah kita bisa melepaskan diri dari beberapa penghalangnya maka terkabulnya doa adalah sebuah kemestian. Kemudian bagaimana dengan realitas yang kita hadapi. Betapa banyak diantara kita yang setiap harinya tidak henti dari berdoa, bukan untuk menjadikannya sebagai permainan bibir dan rutinitas belaka, bahkan lantunan doa itu menjadikan relung hati kita terguncang, air mata tumpah dengan bibir yang bergetar, namun bak menghitung hari seolah doa itu hilang ditelan waktu.

Ketahuilah wahai sobat, bahwa Allah pasti mengkabulkan doa kita. Namun Allah memiliki cara tersendiri dalam menjawab doa-doa kita. Dalam hadits riwayat Ahmad dan al-Hakim dari Abu Sa’id dijelaskan oleh Rasulullah SAW tiga cara Allah SWT mengabulkan setiap harapan atau do’a hamba-Nya. Dengan catatan, seorang hamba tersebut tidak memutuskan hubungan silaturrahim dan melakukan dosa besar. Cara Allah SWT mengabulkan harapan (do’a) tersebut adalah: Pertama, harapan itu langsung dikabulkan atau dalam waktu yang tidak berapa lama. Di antara golongan manusia yang mendapat prioritas cepatnya terkabul harapannya, sesuai dengan beberapa penjelasan hadits Rasulullah SAW yaitu orangtua, orang yang teraniaya, pemimpin yang adil, juga harapan kebaikan dari seseorang kepada orang lain yang jauh dari dirinya. Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang Muslim mendo’akan saudaranya yang tidak berada dihadapannya, melainkan malaikat akan berkata: ‘Dan engkau juga mendapatkan yang seperti itu." (HR. Muslim). Kedua, harapan itu ditunda di dunia dan menjadi tabungan pahala yang akan diterima di akhirat nanti. Seringkali misalnya, keadilan di dunia sulit didapatkan, namun percayalah keadilan akhirat pasti ada. Pengadilan akhirat tidak pernah pandang bulu bahkan menerima sogokan dalam memvonis kasus kehidupan di dunia. Kesadaran ini seharusnya memupuk optimis atau harapan dalam hidup. Sebab, senantiasa berharap (raja’) atas nikmat dan ridho dari Allah SWT merupakan akhlak yang terpuji yang mampu memupuk keimanan dan mendekatkan diri seorang hamba kepada-Nya. Hasil kebaikan ini senantiasa akan mendapatkan balasannya. Tidak di dunia, di akhirat pasti. Ketiga, dijauhkan dari keburukan yang sebanding dengan harapan itu. Dengan kata lain, Allah SWT mengabulkan harapan dengan mengganti sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan, yaitu terhindar dari musibah yang seharusnya menimpa kita. Atau mengganti harapan itu dengan sesuatu yang tidak pernah kita harapkan. Mengapa? Karena Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik bagi kehidupan hamba-Nya (QS. Al Baqarah: 216). Sebab, Dia-lah zat yang menguasai yang awal, yang akhir, yang zahir, yang bathin, dan Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al Hadid: 3). Allah adalah pemilik takdir dan Maha Cerdas dalam membuat rencana-rencana. Rencana-Nya tentu lebih hebat dibandingkan rancangan siapapun.

Dari sekian panjang rangkaian doa yang telah kita panjatkan barangkali kita tidak merasa bahwa semuanya telah dikabulkan Allah. Bisa jadi lantaran doa, kita dihindarkan dari musibah yang telah dituliskan bagi kita. Mari isi Ramadhan ini dengan sebanyak-banyak doa, sekiranya Allah tidak memberi dengan pengabulan terdekat setidaknya kita berharap Allah menukar musibah dengan kebahagiaan. Mari membenahi takdir, dengan potensi yang terbatas semua akan bisa kita optimalkan bila kita musibah bisa diminimalisir salah satunya dengan senantiasa tekun berdoa. Mengisi Ramadhan dengan berdoa. (ANIS)