Senin, 10 Februari 2014

Islam, Ilmu Pengetahuan, dan Akal


Bukan Agama atau Science tapi Agama dan Science

Manusia terdiri atas tiga unsur atau komponen dasar, yaitu akal, qolbu, dan jasad. Manusia yang baik adalah yang mampu mengoptimalkan fungsi tiga unsur tersebut sesuai dengan karakteristik dan kodratnya masing-masing untuk beribadah kepada Allah swt. 
Akal
Manusia dapat menjalankan agama dengan baik kalau memahami agama itu dengan baik. Untuk dapat memahami agama dengan baik,  maka haruslah memahami wahyu dengan baik. Dan di sinilah letak peran akal manusia, yaitu untuk memahami wahyu. Artinya wahyu tidak dapat dipahami dengan baik, jika tidak mempergunakan akal.
Di dalam Al-Quran kata akal (‘aql) disebut sebanyak 48 kali, yang semuanya berbentuk kata kerja (fi’il). Penyebutan dengan bentuk kata kerja menunjukkan fungsionalisasi dari akal itu secara lebih spesifik dan dapat diklasifikasikan menjadi dua fungsi:
1.      Sebagai alat untuk memahami dan mengolah alam semesta (otak rasional)
2.      Sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. (otak spiritual)
Jadi dalam perspektif Al-Quran kata akal lebih dipakai untuk memberi penekanan pada fungsi otak, bukan pada otak secara structural. Otak yang difungsikan secara maksimal akan membawa pencerahan pada manusia yang pada gilirannya akan mengantarkannya menuju Allah swt.
Menurut Taufiq Pasiak dalam bukunya “Revolusi IQ/EQ/SQ, antara Neurosains dan Al-Quran”, fungsi otak berturut-turut berlangsung sebagai berikut:
1.      Homunculus sensorik, tempat rekaman indera diterima dan diatur otak. Otak rasional mempeoleh informasi dari alat-alat indera itu.
2.      Otak intuitif, mengelola informasi tersebut dan menginstruksikan hasilnya kepada indera-indera tersebut dan memformulasikannya dengan tepat dan bijak.
3.      Otak spiritual, berfungsi merenungkan, memahami informasi tersebut dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah swt.
Secara spekulatif fungsi otak ketiga inilah yang diperankan oleh Al-Qolbu. Orang yang mampu mengoptimalkan ketiga fungsi otak tersebut tentunya dia adalah orang yang berakal, berilmu, dan muslim dengan tingkat keislaman yang sempurna.
Akal dan Ilmu pengetahuan
Islam adalah agama yang sangat menghormati ilmu, mengangkat orang-orang yang berilmu dan memberikan kedudukan yang tinggi kepada mereka. Ayat yang sangat populer dalam Al-Quran berbunyi:
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...”
(QS. 58:11)
Kedudukan yang mulia ini tentu tidak dapat diraih oleh mereka yang tidak mau mengfungsikan akalnya.  Betapa akal merupakan anugerah Allah yang sangat berharga dalam kehidupan kita. Kita diberi akal sehat seharusnya kita gunakan untuk hal yang baik dan bermanfaat sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah swt.
Ilmu pengetahuan dan wahyu
Dibanyak ayat Al-Quran, Allah memerintahkan kita untuk mempergunakan akal dengan baik dalam usaha untuk memahami wahyu dan ayat-ayatNya. Logikanya akal kita tidak akan bertentangan dengan wahyu tersebut. Sepanjang hidup, kita diperintahkan untuk mencari ilmu pengetahuan, mempergunakan akal dengan baik dalam memahami wahyu dan ayat-ayat Allah adalah jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan tersebut. Nah, di sini tegas kita katakan bahwa agama Islam selaras dan sejalan dengan logika akal dan ilmu pengetahuan, oleh karena itu tidak dikenal dalam tarikh islam, konfrontasi (pertentangan) antara wahyu dan akal, atau antara Islam dan ilmu pengetahuan, sebagaimana pertentangan itu terjadi di Barat yang mengawali munculnya sekularisme. Sebagai salah satu fakta adalah terbunuhnya Galileo Galilei di tiang gantungan gereja yang menjadi bukti nyata adanya konfrontasi tersebut. Anggapan terjadinya pertentangan antara wahyu dan akal (pemikiran) atau wahyu dan ilmu pengetahuan sebenarnya adalah proses perjalanan penggunaan akal yang belum final. Wahyu bersifat mutlak benar, sedangkan akal bersifat relatif, bisa benar dan bisa salah. Sebagaimana dimaklumi bahwa hasil pemikiran akal seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya. Karena itu tidak mungkin terjadi pertentangan antara wahyu dan akal (pemikiran) atau wahyu dan ilmu pengetahuan kecuali mengenai penemuan-penemuan ilmiah yang belum mapan dan belum final. Dalam kaitanya dengan masalah ini yang patut kita curigai tentu akal atau pemikiran sebagai produk akal kita, bukan wahyu (Al-Quran maupun Al Hadits). Dan kita tentu tidak sepakat dengan golongan rasionalis yang mengambil sikap sebaliknya dengan mencurigai atau meng-cancel wahyu. Sehingga mereka terjerumus ke dalam jurang kekafiran (nas’alullahu Al Afiah).
Agama hanya bagi mereka yang berakal
Agama ini sesuai dengan akal dan tidak ada kewajiban agama yang dibebankan kepada mereka yang tidak berakal. Mereka yang mukallaf dan terkena beban taklif adalah mereka yang baligh dan berakal. Adapun orang gila maka ia tidak layak untuk menerima agama dan menjalankan kewajiban agama. Al-Quran sebagai mu’jizat yang sangat hebat dan luar biasa itu tidak ada nilainya apa-apa kalau dihadapkan kepada mereka yang tidak berilmu dan berakal.
Allah memberi mu’jizat kepada Nabi islam Rasulullah Muhammad saw. bukan dengan ayat kauniyah (yang berbentuk fisik) yang menjadikan kepala tunduk, sebagaimana ayat yang berbunyi:
jika kami menghendaki niscaya kami turunkan kepada mereka mu’jizat dari langit, yang akan membuat tengkuk mereka tunduk dengan rendah hati kepadanya” (QS. 26:4)
Tetapi Allah memberi mu’jizat berupa ayat ilmiah, ayat-ayat yang sarat dengan ilmu yang menjadikan akal tunduk. Memang di awal islam ketika rasulullah saw masih di mekah atas permintaan kafir quraisy, Allah memberikan mu’jizat dengan terbelahnya bulan yang satu belahan di atas jabal qoinuqo’ dan yang satu di atas jabal abi qubais,
“ saat (hari kiamat) semakin dekat, bulanpun terbelah.” (QS. 54:1)
tetapi kemudian mereka mendustakannya,
“Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu’jizat) mereka berpaling dan berkata ‘ini adalah sihir yang terus-menerus’ ”(QS. 54:2)
Oleh karena itu pada waktu lain ketika mereka minta mu’jizat kauniyah turunlah ayat:
Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) sedang ia dibacakan kepada mereka?...” (QS. 29:51)
Cukuplah Al-Quran sebagai mu’jizat abadi rasulullah saw hingga hari kiamat, bukan merupakan mu’jizat kauniyah tetapi mu’jizat ilmiah.
Al-Ghazali berkata dalam bukunya Ma’arijul-qudsi:
“Bahwa sesungguhnya Al-Quran adalah bagaikan cahaya dan akal bagaikan penglihatan.
” … dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an).” (QS. 4:174)
Tanpa penglihatan dan cahaya, seseorang tidak akan dapat melihat sesuatu. Dengan cahaya saja tanpa penglihatan, seseorang juga tidak akan dapat melihat sesuatu. Dengan penglihatan saja tanpa cahaya, seseorang juga tidak akan mampu untuk melihat sesuatu ”
Orang yang dapat melihat kebenaran adalah mereka yang mempergunakan kedua-duanya, wahyu (Al Quran dan Hadits) dan akalnya. Karena itu, sebagai bukti syukur kita, marilah kita gunakan akal kita dengan sebaik-baiknya untuk memahami ayat-ayat Allah dalam rangka mendekatkan diri dan beribadah kepadaNya.

Bahwa ilmu pengetahuan itu tidak bersifat netral (bebas sebuah nilai) karena pada hakikatnya ia merupakan refleksi dari kepribadian, budaya, pola pikir, agama dan masyarakat tertentu. Kita perlu mengakses, mengikuti dan mencermati gejala ilmiah yang menjadi trend baru dan positif dari para ilmuwan. Dunia telah menyaksikan betapa model kajian interdisipliner yang menitikberatkan pada beberapa bidang disiplin ilmu telah meruntuhkan konsepsi yang selama ini dibangun atas asumsi yang diyakini oleh paham sekuler dan liberal bahwa sains (ilmu pengetahuan ) bersifat netral. Sebagai contoh, buku Taufiq Pasiak di atas yang mengolah perkembangan spektakuler dalam neurosains. Buku itu merupakan uraian lengkap kajian interdisipliner yang menitikberatkan pada beberapa bidang ilmu yang bukan secara kebetulan berkaitan erat. Bidang-bidang itu antara lain neuroanatomi, neurofisiologi, psikologi, psikologi kognitif, filsafat, menejemen dan Ulumul-Quran. Kajian seperti ini membuahkan hasil yang sangat meyakinkan, yakni hubungan yang tak terelakan antara ilmu pengetahuan dan agama.




Kemunduran Islam
Kalau kita membuka lembaran sejarah kebudayaan islam barangkali kita akan menemukan bahwa musibah besar yang menimpa ummat islam sampai saat ini adalah kemerosotan dan kemunduran kaum muslimin yang memunculkan perasaan inferior terhadap budaya islam itu sendiri yang pada giliranya akan membawa ummat semakin skeptis terhadap ajaran agamanya.
Dalam sejarah tercatat bahwa awal kemunduran islam dan runtuhya superioritas militer islam ditandai dengan kegagalan dinasti Utsmaniyah dalam menyerang Vienna pada 1683, disusul kekalahan imperium Moghol dengan EIC (English Eash India Company), suksesnya agresi Napoleon Bonaparte ke Mesir tahun 1798 dan hampir bersamaan itu pula negeri-negeri imperialis baat seperti Belanda, Portugis, Perancis, Inggris dan Spanyol menjadikan negeri-negeri islam baik di Asia maupun di Afrika sebagai negeri jajahan.
Memang semua musibah adalah dari Allah swt. Segala sesuatu sudah di catat di lauh mahfuzh, tetapi jangan kemudian kita bersifat fatalis, kita harus berbuat, mengevaluasi diri, dan mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya.
Sebagian cendekiawan muslim kontemporer mencoba untuk mengidentifikasi penyebab kemunduran berdasarkan aspek-aspek eksternal seperti fenomena-fenomena sosial, politik, ekonomi, teknologi, budaya, dan sebagian lain mengidentifikasi akar penyebab kemunduran berdasar aspek internal, yaitu kesalahan persepsi ummat islam terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Setelah kaum imperialis gagal untuk mengeksplor ide-ide dan pandangan hidup mereka ke dunia islam secara konfrontatif mereka mulai memasukan ide-ide dan pandangan hidup itu dengan menyelinap.
Namun sayangnya banyak anak-anak kita, generasi-generasi muslim yang terpesona dengan kemajuan barat, sehingga ia dengan mudah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran barat. Mereka dengan mudah mengadopsi begitu saja ilmu-ilmu dari barat seperti materialisme, liberalisme, sekularisme, marxisme, feminisme, demokrasi dan sebagainya. Padahal ilmu-ilmu itu merupakan refleksi dari budayta-budaya asing yang secara diametral bertentangan dengan islam.
Menjemput kejayaan islam
Kejayaan dan kegemilangan peradaban islam tidak akan kembali kecuali kita berpulang kepada tuntunan Allah Al-Quran dan Al-Hadits, namun kita perlu tahu bahwa ilmu pengetahuan itu merupakan sesuatu yang melekat pada diri seseorang, yang ada di pikiran yang kemudian meresap dalam sanubari sehingga megantarkan orang tersebut untuk lebih mengenal Allah swt.  dan menumbuhkan khosyyah atau taqwallah.
Adapun sesuatau yang ada di luar kita itu bukan ilmu, tetapi informasi, fakta atau obyek. Sebagai perumpamaan, hasil perkalian 2x2=4 yang ditulis pada secarik kertas dan diberikan kepada seorang bayi maka tidak akan berarti apa-apa. Begitu pula Al-Quran Al-Karim sebagai sumber ilmu pengetahuan tidak berarti apa-apa kalau dihadapkan kepada orang kafir.
Begitu pula Al-Quran sebagai ayat-ayat qouliyah (tanda-tanda kebesaran Allah) kalau kita hanya melihat fisikalnya, simbol-simbolnya, huruf-hurufnya, lambang-lambangnya maka tidak akan banyak bermakna. Dan ayat-ayat kauniyat (tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta) tidak akan bermakna kalau kita hanya melihat sisi fisiknya saja. Jadi demi memperoleh kembali kejayaan islam kita harus kembali mengkaji dengan intens ayat-ayat Allah baik yang qouliyah maupun yang kauniyat.
Ini memang menjadi tugas yang berat dan perjuangan bagi kita. Karena pada kenyataannya ide-ide sekuler telah mengkontaminasi pola pikir generasi-generesi muda kita, yang hanya menjadikan materi sebagai tujuan akhir. Mereka berusaha mati-matian hanya untuk meraih kenikmatan materi dan kesenangan psikologis semata, padahal seharusnya kehidupan kita di alam fonomenal ini kita jadikan jembatan/wasilah/sarana untuk meraih kebahagiaan hakiki di akhirat.

“Dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah padamu kebahagiaan negeri akhirat..”
(Al-Qashash:77)
Gunakanlah waktu dan kesempatan yang masih diberikan oleh Allah kepada kita untuk hal yang bermanfaat. Marilah kita berbuat semampu kita untuk kejayaan islam. (Ahmad Thoha Husein Al Hafidz/ANIS)