Sudah berjalan tiga bulan ini, 3 jam sehari, 160 km perhari ditempuh
dengan sukses lancar. Alhamdulillah. Allah telah memberi karunia umur
dan kesehatan sehingga hingga kini masih segar dan mampu menikmati
kehidupan. Detik-detik kosong disaat mengendara motor bisa digunakan
untuk mengulang-ulang bacaan Al Qur'an yang sudah aku tuliskan dalam ingatan.
Baru sedikit surat memang, tapi sanggup mengisi kosongnya waktu
menyusur jalan Palangkaraya-Kasongan. Terkadang detik itu aku isi dengan
memutar ulang rekaman kajian Ustadz Muhibbin yang beberapa filenya
tersimpan di hape jadul ku, HP Huawei warna biru. Hape yang tak tertandingi
harganya di seluruh muka bumi, karena nggak ada yg sanggup membelinya
(karena nggak bakalan dijual) atau malah nggak ada yang bakalan beli
heh...heh...heh.
Dua minggu terakhir perjalanan rutinku ini sering terganggu. Bukan
gara-gara traffic light yang nyalanya merah melulu.... (karena memang
nggak ada traffic light disini) bukan pula gara-gara jalan yang macet.
(jalannya kosong blong.... kalau VR46 mbah Rossi rela meminjamkan M1
nya barang sehari mungkin jalan ini bisa jadi pengganti sirkuit Misano
karena saking sepinya)...Bukan juga karena macet di perempatan atau
karena truk mogok di tanjakan ( karena jalannya mulus lurus dan nggak
ada tanjakan.. Beberapa kali perjalanan pulang pergi terganggu karena
asap. (asap beneran bukan asap knalpot)
Beberapa areal lahan di sebagian ruas jalan sedang terjadi kebakaran
hebat. Kalau dilihat mungkin karena kejadian alam (sebagian kecil
benar) tapi aku yakin sisanya terbakar karena memang dibakar. Ya memang
kebakaran itu terjadi karena ada api oksigen dan bahan bakar (mengutip
pertanyaan kuis di stand BLH Katingan).... alam memang bisa memantik api
dengan gesekan dahan dimusim kemarau, tapi lebih besar kemungkinannya
bila api itu timbul karena ada orang yang sengaja membakar, atau buang
puntung rokok sembarangan (bukan kencing sembarangan). Sebagian besar
lahan yang terbakar (baca: dibakar) itu memang sudah kering sebelumnya,
kering karena disemprot obat gulma. Maka memang mendekati benar kalau
tebakannya lahan itu dibakar orang.
Kita di bumi ini kan memang hidup diantara banyak kelompok makhluk.
Kalau ada orang yang membakar lahan, maka sebenarnya setelah Allah, maka
tumbuhan itu kelompok makhluk yang paling besar marahnya. Bayangkan,
tiap detik tumbuhan itu bekerja keras, sudah berhasil mereka,
dimusnahkan kembali sama makhluk yang namanya manusia, termasuk jasad
mereka dimusnahkan pula.
Kawan, dan kawal. Allah itu setiap detik sibuk bekerja (Q.S Ar
Rahman : 29). Tumbuhan makhluk ciptaan-Nya pun demikian. Setiap detiknya
mereka bekerja keras, mengikat Karbon, segala Nitrogen dan zat lain
yang ada diudara diikat dan dikonversi ke dalam tanah. Kerja keras
mereka itu membuahkan tanah yang hidup, yang berangsur-angsur menjadi
subur. Mereka memindahkan kehidupan kepada tanah. Jadi tidak seluruhnya
benar anggapan tumbuhan itu membutuhkan tanah, tanahpun sebaliknya
karena ia bisa ada karena ada tumbuhan. Kita ingat asal mula kejadian
semesta ini, ketika bumi masih berupa gas panas yang berangsur-angsur
dingin, ketika dinginnya berupa batu dan pasir, maka tumbuhan lumutlah
yang oleh Allah di tumbuhkan disana, lumut bekerja mengikat semua zat
untuk dipindahkan ke tanah... begitu terus berjalan hingga tanah itu
menjadi ada dan di kenal. Ingat bro kita-kita ini kan berasal dari
tanah... maka berterima kasihlah kepada lumut.... bersyukurlah kepadanya
walaupun ia hanya makhluk remeh.. Barangsiapa yang tidak mampu
bersyukur pada makhluk, maka dia tak akan mampu bersyukur pada Tuhan).
Tumbuhan dengan Fotosintesis A dan B, dengan reaksi gelap dan
terangnya telah membuat itu semua mungkin. sebab setahu saya yang masih
bodoh ini, belum ada mesin pengikat C udara menjadi C terikat di tanah,
atau pengikat N atau yang lain. karena kalau ada, si pembuat mesin itu
pasti orang yang sangat bodoh buang waktu, tenaga dan resource, karena
Allah sudah membuatkan untuk kita.
Memang ia hanya selembar daun kawan, tapi luar biasa. Dibalik
kulitnya ada mesin yang luar biasa canggih. di selembar daun itulah
proses ajaib itu terjadi dengan 100% efisien. Energi itu 100
terkonversi. Nggak percaya? Fotosintesis itu terjadi setiap hari. Coba
pagi hari sempatkan untuk menyentuh selembar daun apa saja nggak usah
lama 3 menit saja. Nggak panaskan? Coba bandingkan dengan kulkas, pegang
sisi kanan atau kiri kulkas, panas kan? atau... coba pegang mesin
motor yang sedang berjalan kalau perlu knalpotnya?... (pasti melepuh
ha...ha...ha...). kulkas menjadi panas, bohlam lampu menjadi panas,
semuanya karena konversi energi tidak efisien, tidak semua energi
listrik dikonversi menjadi energi pendingin, ada yang bocor berupa
energi panas. Maka itulah hebatnya teknologinya si Daun ini...
benar-benar effisien. Oleh tumbuhan, energi itu sebagian disimpan di
daun, sebagian lagi di simpan di buah, ada yang di salurkan ke akar,
menjadi N, P, C yang terikat di tanah..Bukan itu saja, kalau daun itu
mati dan layu. dahan itu patah dan jatuh ketanah. dibantu bakteri
pembusuk, maka semuanya terurai menjadi zat organik, yang menghidupkan
tanah. daun busuk adalah tempat hidup yang nyaman bagi cacing dan
bakteri.
Proses yang berlangsung tanpa putus setiap harinya sedikit-sedikit
yang membukit . Di musnahkan dan di nafikan oleh manusia dalam waktu
sekejap saja. Maka ketika daun, dahan itu semua terbakar, segera saja
bahan penyusun utama tumbuhan utama nya C.... (karbon) akan lepas lagi
ke udara.
Di bumbui oleh polesan kapitalis global, maka datanglah
program-program lingkungan macam REDD+, USAID dsb..... Lepasnya Karbon,
akan bikin atmosfir kita bertambah panas, Kutub utara selatan segera
mencair, meningkatnya permukaan lautan, yang berarti menyusutnya
permukaan daratan.... he..he... apakah akan kita vonis sebagai kiamat?
Cukuplah berbuat yang remeh kecil dan sederhana, bersyukurlah pada
tanaman, ketika kita bertemunya tersenyumlah, bila bertemu dengan
jasadnya, dahan yang patah, daun yang mengering, atau bertemu potongan
daunnya yang segar yang kita pangkas atas nama kerapian dan estetika
maka hormatilah ia dengan menguburnya baik-baik ke tanah. Sebab itu akan
mengabadikan kebaikan dan jasa tumbuhan.. akan mengalirkan kehidupan
kembali ke tanah..... asal mula kita.
Jangan kita bakar, ... kuburkan yang baik.
Jangan kita kuburkan
plastik dan turunannya, karena itu akan meracuni tanah.... asal mula
kita.
Sayangi tanah.... asal mula kita. Sayangi bumi tempat kita berbagi.
Karena Dia sayang pada siapa yang berbuat kebaikan di muka bumi. dan benci pada siapa yang membuat kerusakan di dalamnya.
Out of topics, turut berbahagia atas kemenangan saudara kita di Gaza, Merdeka ( lagi) Gaza,..
Gaza merdeka (lagi) mulai hari ini..