Tampilkan postingan dengan label diorama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diorama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 September 2014

Membeku Di Tepi Api Unggunmu


"Api..kita sudah menyala.......api kita sudah menyala.... api...api....api .... api.... api....  api kita sudah menyala"..
Selalu ingat akan senandung itu kalau melihat api unggun. Duduk melingkar ditepi api unggun, ada yang tertawa, dari senyum simpul sampai teriakan memecah malam.. Bahkan kalau pun dalam diam pun melihat api yang  berkobar membakar tumpukan kayu sambil merasakan hangatnya hawa panas yang menjilat-jilat permukaan kulit. Tidak peduli dengan asap yang satu dua kali menyergap pernapasan, maka yang dirasakan hanya kehangatan dan keakraban.

Mengingat api unggun adalah mengingat kembali terselamatkan satu nyawa. Ketika kami dalam sebuah pendakian di Gunung Sumbing, salah seorang teman ternyata terkena hypotermia, dia sudah hilang kesadaran. Segera kami mengurungkan pendakian dan turun kembali ke pos sebelumnya. Di sepanjang jalan bergantian kami mencoba mempertahankan agar kawan tersebut tetap terjaga. Maka ketika sudah sampai di pos bawah segera kami membuat api unggun. Dengan berselimut kantong tidur kami biarkan kawan itu istirahat.

Tidak ada kehangatan, keakraban. Dimana ada asap disitu ada sumpah serapah, saling menyalahkan, ingkar tanggung jawab. Mengapa hanya asap saja yang kau tebar?. Dimanakah keakraban ditepi api unggun?. Dimanakah kehangatan orang yang berkeliling sambil berkelakar, saling bertukar pikiran dan bertukar hati.
 Mengingat asap, maka selalu teringat akan kehangatan api unggun. Tetapi sudah tiga minggu belakangan kami dalam kepungan asap. Dijalan, dirumah, dimana tempat kami berdiri asap mengepung dimana-mana. Tidak ada kehangatan, keakraban. Dimana ada asap disitu ada sumpah serapah, saling menyalahkan, ingkar tanggung jawab. Mengapa hanya asap saja yang kau tebar?. Dimanakah keakraban ditepi api unggun?. Dimanakah kehangatan orang yang berkeliling sambil berkelakar, saling bertukar pikiran dan bertukar hati.

Kau membuat api, lalu kau melarikan diri. Kau buat kami menelan asap beku, membekukan hati kami. Bekunya kemanusiaanmu kau tularkan melalui asapmu ini. Teruslah kau bakar lahanmu dan kau sebarkan asapnya kemanapun angin mau, lantas keberkahan macam apa yang kau harapkan dari tanaman yang kelak kau tumbuhkan diatas lahanmu?

Kau buat kami membeku di tepi "api unggunmu" (iogy_b@skara)

Palangkaraya ditengah kabut asap

Selasa, 26 Agustus 2014

Bersyukur Walau Pada Selembar Daun


Sudah berjalan tiga bulan ini, 3 jam sehari, 160 km perhari ditempuh dengan sukses lancar. Alhamdulillah. Allah telah memberi karunia umur dan kesehatan sehingga hingga kini masih segar dan mampu menikmati kehidupan. Detik-detik kosong disaat mengendara motor bisa digunakan untuk mengulang-ulang bacaan Al Qur'an yang sudah aku tuliskan dalam ingatan. Baru sedikit surat memang, tapi sanggup mengisi kosongnya waktu menyusur jalan Palangkaraya-Kasongan. Terkadang detik itu aku isi dengan memutar ulang rekaman kajian Ustadz Muhibbin yang beberapa filenya tersimpan di hape jadul ku, HP Huawei warna biru. Hape yang tak tertandingi harganya di seluruh muka bumi, karena nggak ada yg sanggup membelinya (karena nggak bakalan dijual) atau malah nggak ada yang bakalan beli heh...heh...heh.

Dua minggu terakhir perjalanan rutinku ini  sering terganggu. Bukan gara-gara traffic light yang nyalanya merah melulu.... (karena memang nggak ada traffic light disini) bukan pula gara-gara jalan yang macet. (jalannya kosong blong.... kalau VR46 mbah Rossi  rela meminjamkan M1 nya barang sehari mungkin jalan ini bisa jadi pengganti sirkuit Misano karena saking sepinya)...Bukan juga karena macet di perempatan atau karena truk mogok di tanjakan ( karena jalannya mulus lurus dan nggak ada tanjakan.. Beberapa kali perjalanan pulang pergi terganggu karena asap. (asap beneran bukan asap knalpot)

Beberapa areal lahan di sebagian ruas jalan sedang terjadi kebakaran hebat. Kalau dilihat  mungkin karena kejadian alam (sebagian kecil benar) tapi aku yakin sisanya terbakar karena memang dibakar. Ya memang kebakaran itu terjadi karena ada api oksigen dan bahan bakar (mengutip pertanyaan kuis di stand BLH Katingan).... alam memang bisa memantik api dengan gesekan dahan dimusim kemarau, tapi lebih besar kemungkinannya bila api itu timbul karena ada orang yang sengaja membakar, atau buang puntung rokok sembarangan (bukan kencing sembarangan). Sebagian besar lahan yang terbakar (baca: dibakar) itu memang sudah kering sebelumnya, kering karena disemprot obat gulma. Maka memang mendekati benar kalau tebakannya lahan itu dibakar orang.

Kita di bumi ini kan memang hidup diantara banyak kelompok makhluk. Kalau ada orang yang membakar lahan, maka sebenarnya setelah Allah, maka tumbuhan itu kelompok makhluk yang paling besar marahnya. Bayangkan, tiap detik tumbuhan itu bekerja keras, sudah berhasil mereka, dimusnahkan kembali sama makhluk yang namanya manusia, termasuk jasad mereka dimusnahkan pula.

Kawan, dan kawal.  Allah itu setiap detik sibuk bekerja  (Q.S Ar Rahman : 29). Tumbuhan makhluk ciptaan-Nya pun demikian. Setiap detiknya mereka bekerja keras, mengikat Karbon, segala Nitrogen  dan zat lain yang ada diudara diikat dan dikonversi ke dalam tanah. Kerja keras mereka itu membuahkan tanah yang hidup, yang berangsur-angsur menjadi subur.  Mereka memindahkan kehidupan kepada tanah. Jadi tidak seluruhnya benar anggapan tumbuhan itu membutuhkan tanah, tanahpun sebaliknya karena ia bisa ada karena ada tumbuhan. Kita ingat asal mula kejadian semesta ini, ketika bumi masih berupa gas panas yang berangsur-angsur dingin, ketika dinginnya berupa batu dan pasir, maka tumbuhan lumutlah yang oleh Allah di tumbuhkan disana, lumut bekerja mengikat  semua zat untuk dipindahkan ke tanah... begitu terus berjalan hingga tanah itu menjadi ada dan di kenal. Ingat bro  kita-kita ini kan berasal dari tanah... maka berterima kasihlah kepada lumut.... bersyukurlah kepadanya walaupun ia hanya makhluk remeh.. Barangsiapa yang tidak mampu bersyukur pada makhluk, maka dia tak akan mampu bersyukur pada Tuhan).

Tumbuhan dengan Fotosintesis A dan B, dengan reaksi gelap dan terangnya telah membuat itu semua mungkin. sebab setahu saya yang masih bodoh ini, belum ada mesin pengikat C udara menjadi C terikat di tanah, atau pengikat N atau yang lain. karena kalau ada, si pembuat mesin itu pasti orang yang sangat bodoh buang waktu, tenaga dan resource, karena Allah sudah membuatkan untuk kita.

Memang ia hanya selembar daun kawan, tapi luar biasa. Dibalik kulitnya ada mesin yang luar biasa canggih. di selembar daun itulah proses ajaib itu terjadi dengan 100% efisien. Energi itu 100 terkonversi. Nggak percaya?  Fotosintesis itu terjadi setiap hari. Coba pagi hari sempatkan untuk menyentuh selembar daun apa saja nggak usah lama 3 menit saja. Nggak panaskan? Coba bandingkan dengan kulkas, pegang sisi kanan atau kiri kulkas, panas kan? atau... coba pegang mesin motor yang  sedang berjalan kalau perlu knalpotnya?... (pasti melepuh ha...ha...ha...). kulkas menjadi panas, bohlam lampu menjadi panas, semuanya karena konversi energi tidak efisien, tidak semua energi listrik dikonversi menjadi energi pendingin, ada yang bocor berupa energi panas.  Maka itulah hebatnya teknologinya si Daun ini... benar-benar effisien. Oleh tumbuhan, energi itu sebagian disimpan di daun, sebagian lagi di simpan di buah, ada yang di salurkan ke akar, menjadi N, P, C yang terikat di tanah..Bukan itu saja, kalau daun itu mati dan layu. dahan itu patah dan jatuh ketanah. dibantu bakteri pembusuk, maka semuanya terurai menjadi zat organik, yang menghidupkan tanah. daun busuk adalah tempat hidup yang nyaman bagi cacing dan bakteri.


Proses yang berlangsung tanpa putus setiap harinya sedikit-sedikit yang membukit . Di musnahkan dan di nafikan oleh manusia dalam waktu sekejap saja. Maka ketika daun, dahan itu semua terbakar, segera saja bahan penyusun utama tumbuhan utama nya C.... (karbon) akan lepas lagi ke udara.
Di bumbui oleh polesan kapitalis global, maka datanglah program-program lingkungan macam REDD+, USAID dsb..... Lepasnya Karbon, akan bikin atmosfir kita bertambah panas, Kutub utara selatan segera mencair, meningkatnya permukaan lautan, yang berarti menyusutnya permukaan daratan.... he..he... apakah akan kita vonis sebagai kiamat?

Cukuplah berbuat yang remeh kecil dan sederhana, bersyukurlah pada tanaman, ketika kita bertemunya tersenyumlah, bila bertemu dengan jasadnya, dahan yang patah, daun yang mengering, atau bertemu potongan daunnya yang segar yang kita pangkas atas nama kerapian dan estetika maka hormatilah ia dengan menguburnya baik-baik ke tanah. Sebab itu akan mengabadikan kebaikan dan jasa tumbuhan.. akan mengalirkan kehidupan kembali ke tanah..... asal mula kita.

Jangan kita bakar, ... kuburkan yang baik.

Jangan kita kuburkan plastik dan turunannya, karena itu akan meracuni tanah.... asal mula kita.
Sayangi tanah.... asal mula kita. Sayangi bumi tempat kita berbagi.
Karena Dia sayang pada siapa yang berbuat kebaikan di muka bumi. dan benci pada siapa yang membuat kerusakan di dalamnya.

Out of topics, turut berbahagia atas kemenangan saudara kita di Gaza, Merdeka ( lagi) Gaza,..
Gaza merdeka (lagi) mulai hari ini..

Jumat, 14 Maret 2014

Air Mata Seharga Permata

Bercerita tentang seorang wanita yang sedang berjuang antara cinta dan pengorbanan dengan semangat yang merapuh dan harapan mulai meredup.

Sudah masuk tahun ketiga, suaminya tercinta tergeletak bagai mayat yang bernyawa. Sepenuh cinta dia merawat tubuh yang dingin mengkayu itu, memandikannya, menyuapinya, setiap hari. Tiada bosan selalu bercerita kepadanya tentang hari-hari yang selalu berubah. Tentang matahari yg selalu setia, mengenai rumah mereka juga tentang anak-anak mereka yang sudah mulai tumbuh besar.

Cerita rangkai berangkai terus mengucur dari bibirnya walaupun tanpa jawab, tapi dia yakin suaminya mendengarnya dalam beku dan bisu. Dan sore itu semua lelah, keluh dan harap terbayar lunas. Ketika dia mengusap wajah suaminya, ada gerakan hatinya mendorongnya untuk bertanya,

"Ayah, masih cintakah engkau dengan ibu?".

Lugas saja kata-kata itu meluncur walau ia tahu bahwa pasti seperti yang sudah-sudah bahwa pertanyaannya itu akan meluncur diruang yang kosong.

Namun kali ini berbeda, mendadak jantungnya berdetak kencang, suara detak jam dinding kamar berdebam keras. ....

Dari sudut mata wajah pucat itu mengalir air mata walau dalam tatapan hampa.

Maka segera saja ia balas airmata itu dengan tangis yang berpanjangan. Ucapan dzikir menggetarkan bibirnya, berucap syukur. Inilah saat pertama, dalam tiga tahun terakhir suaminya membalas pertanyaannya, walaupun dengan airmata bergulir.

Maka lunas sudah semua pertanyaan, resah, putus asa, lelah dan gundah. Ternyata Allah menjawab doanya.

*sujud sungkem kagem ibu. Kawulo kangen.

Jumat, 14 Februari 2014

Membaca Serat-Serat Jiwa Illahi


gambar dari : www.antaranews.com

Ada  yang sedikit berbeda dalam persiapan ibadah jumat kali ini. Kami menyiagakan beberapa rekan  relawan dengan persenjataan lengkap di mulut “pintu” masjid. Sengaja pintu dengan tanda petik sebagai sebutan secara maknawi saja karena sejatinya masjid ini memang tidak berpintu. Sekitar lima orang stand by bukan dengan AK 47 atau MIG 16, namun beberapa tongkat lap lantai. Mereka diterjunkan untuk menjamin  kenyamanan agar jamaah jum’ah dapat melaksanakan shalat tanpa khawatir terganggu oleh debu yang menempel di jidat atau bahkan terhirup hidung ketika bersujud.

Namun seoptimal upaya maka pada akhirnya ketika tiba waktu sholat, masih ada saja dibeberapa area terutama yang dekat dengan tiang terluar, ceceran debu vulkanis yang melapis lantai tipis-tipis. Memang luar biasa Gunung itu. Mbah Rono menyampaikan bahwa Gunung Kelud ber type Stratovulkanic.


*Stratovulkanic adalah gunung kerucut dengan lereng yang curam dan kaki yang melandai, tercipta dari subduksi (penekukan) lempeng tektonik. Biasanya kaya silikat dan bersifat asam*

Mbah Rono lebih lanjut menjelaskan bahwa gunung berapi itu punya karakter mirip manusia, yaitu  “unik”. Berbeda sifat antara satu gunung dan gunung lainnya. Kalau Kelud ini eksplosif-meledak-ledak, punya karakter energi yang besar, dengan demikian tidak aneh  erupsi untuk letusan saat ini mencapai ketinggian 17 km. Energi yang tinggi dikombinasikan dengan kandungan yang kaya silikat maka beginilah yang terjadi, abu vulkaniknya tersebar ke daerah yang begitu jauh sesuai dengan arah angin saat itu. Dilaporkan dari berbagai berita abu vulkanik Kelud mencapai Jawa Barat, bahkan berpotensi sampai Jakarta. Wilayah yang dilaporkan terkena efek abu yang cukup parah meliputi, Jombang ke Barat, Solo, Yogyakarta dan Gombong Kebumen. Sore hari tadi dilaporkan jarak pandang di Jogja dan Kebumen hanya sekitar 2 meter saja. Tentu saja kami yang ada di Purwokerto pun kebagian pula. 

Kembali ke masalah lantai yang terlapis tipis abu vulkanik  tadi, maka agak lucu juga melihat beberapa jamaah yang  jidatnya memutih kelabu akibat sujud dilantai ber abu tadi, sehingga setelah keluar cepat-cepat mereka berkaca di spion kendaraan untuk memastikan penampilan. 

Demi melihat jidat-jidat yang memutih kelabu itu, maka kemudian  menjadi jelas sebagai apa hakekat kita didunia ini. Gempa bumi kebumen, erupsi Sinabung, banjir disebagian Jawa, disusul erupsi Kelud adalah Serat-Serat Jiwa Illahi yang Dia tuliskan untuk kita. Mempertegas ayat apa yang sudah pernah Dia turunkan kepada utusannya yaitu 

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri. (QS AlAnkabut : 40)

Jidat yang memutih mengelabu itu  mempertegas, bahwa sesungguhnya wajah yang kita banggakan ini derajatnya tidak lebih mulia dari pantat, tempat kita buang kotoran, atau sekedar kentut. Ketika bersujud maka letaknya jauh dibawah, bahkan tidak lebih mulia dari telapak kaki kita. Maka wajah yang kita banggakan kecantikan, atau ketampanannya, di elus setiap hari dengan berbagai produk yang memukau, sebagaimanapun meriasnya maka sebegitu rendahnya derajatnya. Maka tidak layak bagi wajah itu untuk sombong dan berbangga diri. Maka jidat yang memutih kelabu itu mengajari kita tentang ke”tawadlu”an. Ujub adalah merasa diri lebih dibandingkan dengan orang lain; sedangkan sombong (al Kibr) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia (baca: makhluk) lain. Maka wahai wajah yang putih mengelabu, engkau tidak akan mampu mengelabui hatimu apalagi Tuhanmu.

Jidat yang memutih mengelabu hakikatnya sedang membaca Serat-Serat Jiwa yang dikirimkan oleh Illahi Robbi, bahwa manusia bila dibakar maka akhirnya menjadi debu. Sehingga rayuan setan dan hawa nafsu yang diperturutkan akan membakar jiwa manusia menjadi gosong berabu. Dari abu kita belajar darimana kita berasal dan bagaimana keadaan kita kembali.

Maka apa yang dapat kita lakukan kecuali selalu berusaha menjaga agar wajah ini tetap bersih dari abu,  membasuhnya dengan air wudlu. Membersihkan jiwa kita dari abu debu, hasil dari sebagian jiwa kita yang dibara dan dibakar oleh syaitan dengan bertaubat. Maka apakah ada jalan yang lebih baik daripada Istighfar?

Maka apa yang dapat kita banggakan kecuali perasaan ridlo kita pada segenap takdir dan ketentuan Allah, dan tidak berhenti berharap agar Dia pun memiliki keridloan yang sama pada kita.

Langit yang muram, abu debu yang turun merayapi muka bumi, petir yang menggelegar, hujan yang turun dipagi ini adalah serat-serat jiwa Illahi. Sudahkah kita dengan tepat membacanya?
#senja kelabu di purwokerto, 14 Februari 2014.
Teriring doa untuk segenap keluarga Pak de Waluyo-Kediri di pengungsian dan semua pengungsi erupsi Kelud, semoga kita mampu dengan tepat membaca dan bertindak, mengambil pelajaran. dan berharap agar Allah selalu mengangkat setiap kesulitan menggantinya menjadi kemudahan. dan menjadikannya sebagai ladang amal.[iogy baskara]

Selasa, 11 Februari 2014

PadaMu Kami Menyembah, PadaMu Kami Bermohon Pertolongan

Berdirilah engkau pada barisan Golongan Allah

Apapun masalahnya nggak bisa sendiri dalam memecahkannya. Maka Rasul pernah bilang. "Ya Rabbku jangan engkau serahkan aku pada diriku walau sekejap mata". Artinya kalau akhirnya masalah itu selesai maka lebih pada peran Allah yg lebih dominan

Berdirilah selalu dalam barisan orang-orang yang menolong agama Allah dan membela serta membantu kepentingan ummatNya. Bila demikian maka Allah pasti akan mengambil alih semua masalahmu.

Kalau energi kita hanya dibuang untuk romantika dan masa lalu lantas siapa yg memikirkan masa depan kita?. | kita berharap Allah yg mikir? | kalau keberpihakan pikiran, hati dan perasaan kita bukan untuk izzul Islam wal muslimin *meninggikan Islam dan kaum muslimin* maka jangan harap Allah akan membantu kepentingan kita. | apatah lagi kalau energi hati yg sedianya bisa untuk memikirkan ummat agama ini malah kita gelincirkan memikirkan yang remeh temeh atas nama persahabatan, hubungan dekat atau apapun itu maka hendak kemana biduk itu akan berlayar? 

Berkata Iman Ibnul Qoyyim, betapa banyak orang berkehendak sesuatu, maka bagaimana akan sampai bila dia mendayung sampan diatas lautan pasir?

 Maka jangan sekalipun kita mau dibuat lengah dan lemah oleh setan dengan merasa kita telah menjadi korban dari sebuah keadaan. Karena Allah menuntut kita menjadi pelaku aktif atas setiap peristiwa. Karena itulah kodrat kita sebagai manusia punya harga diri dan masyiah (kehendak). Bila terus saja merasa demikian maka artinya masih tipis keimanan kita akan takdir. Maka apakah ada jalan yg lebih baik dari istighfar?

 #jika tidak ada bahu untuk bersandar selalu ada lantai untuk bersujud (shinta ardjahrie-relawan yg mati muda memperjuangkan kehormatan Islam dan kaum muslimin)

Diluar sana ada banyak orang-orang muda yang menggetarkan penghuni langit dengan semangatnya berkorban dan berdakwah dijalan Allah.

Namun diluar sana ada juga orang yang hidup sengsara karena pengorbanan yang sia-sia. Hanya atas nama belas kasihan, persahabatan, partai, kelompok, golongan, perjanjian hawa nafsu dan kebutaan.

Hanyalah bagi muslim mencinta, merindu dan membenci karena Allah. Karena disitulah letak lezatnya Iman. 

Berdirilah dengan dada membusung dan kepala tegak meninggikan bendera Islam. Dan bisikkan bahwa Allah itu begitu Besar- Allahu Akbar. Dan sampaikan pada setiap peristiwa dan setiap masalah bahwa mereka itu kecil. Kabarkan pertolongan Dzat yang Maha Besar akan segera datang.

Bila sudah kakimu sekarang berdiri di medan perjuangan, maka bergeraklah dengan hati dan jiwamu, bukan sekedar untuk status pekerjaan atau beberapa lembar uang namun demi sebuah gerakan. 

In tansurullaha yansurkum wa yutsabbit aq daa makum

*untuk saudaraku sedarah seiman, yakinlah pertolongan Allah itu dekat | untuk adik-adikku, bukankah kita sudah begitu terbiasa dengan ujian Allah, maka jangan buang energi. Paculah diri mendekat pada Allah.. TanganNya sungguh luarbiasa dalam memberi pertolongan. | Mintalah doa kepada siapa yang melahirkan kita sungguh dia adalah surga yang hidup di dunia kita. Sebelum surga itu hilang dan pergi, datangi ia dan cium kakinya | jangan sekali-kali membuatnya gundah dan bersedih hati.

(hambaNya yang lemah-iogy baskara)

Jikalau Harus Galau, Gak Perlu Kacau


Kalau melihat orang galau, aku jadi ingat  seorang sahabat yang galau juga. Statusnya di facebook yang random dan curcol (#dia banget).  Aku datang kepadanya berlagak bisa sekedar memulihkan keadaan hatinya dengan ngobrol kecil kiri kanan, sekedar urun kuping, barangkali bisa meredakan galaunya. Apa lacur yang aku obrolin malah nambah dia makin galau.  Akhirnya aku jadi melow dan speechless. Berlagak seperti konsultan kejiwaan  meredakan galau tapi malah jadi kacaw. Sok tahu begitu lah...
“Dia” itu orang yang begitu dalam perhatiannya pada orang lain.
*okelah banyak orang yang suka kasih perhatian ke orang lain. Ada juga yang nggak sempat mandi gara-gara mikirkan si doi, mau tidur ingat do’i, bangun tidur apa lagi, melek mata langsung samber hape, “halo bagaimana kabarmu, yang?”.  Bukan seperti itu bentuk perhatian sahabatku itu pada orang,  itu sih seperti jatuh cinta cemen yang sering berjangkit di ruang gaul anak remaja. Atau galaunya orang yang sudah kadung deket banget bersahabat dengan orang yang kalau nggak sms, atau telpon rasanya seperti gersang. *
“Dia” seorang pekerja sosial. Hampir seluruh waktunya “dia” curahkan untuk klien-kliennya. Ada Puji, seorang anak penderita hydrocephalus, yang kata dokter divonis sudah tak terobatkan,yang dia kunjungi hampir setiap akhir pekan sambl membawa beberapa bungkus kresek isi jajanan, ada mbah Karsitem perempuan tua yang tinggal di pos ronda yang dihimpit  bangunan megah kos-kosan, kompleks kampus Soedirman, sosok yang terlupakan ditengah hiruk pikuk teriakan tentang ilmu humaniora, humanitas dan kedermawanan, “dia”  pula yang mengangkat kisahnya ke permukaan. Bahkan tentang Tasripin yang sempat menjadi buah bibir sampai ke teras Istana negara, hingga SBY pun perlu repot-repot mengirim sumbangan. “Dia”  pula yang pertama kali menuliskan tentang Tasripin dengan tulisan sederhana tanpa lipstik dan dramatisasi disana-sini sebagaimana tulisan banyak jurnalis di media yang bahkan nampak sekali mengeksploitasi Tasripin  demi  kepentingan deadline media dan atau atas nama pengajuan project proposal; dan “klien-klien“ lain yang tidak terhitung banyaknya.
“Kenapa harus stag kaya gini sih, mas?”, ungkapnya saat itu. Banyak memang hambatan yang harus dia atasi. Disaat yang sama aku sebenarnya punya potensi untuk membantu, tapi begitulah waktu hanya tercipta 24 jam saja.
Begitulah “dia”  nampak tertekan dan berpikir keras setiap ada hambatan atau tantangan yang merintangi jalannya, namun seperti biasa “dia”  terus bekerja-bekerja untuk mengurai kesulitan.  Aku ingat binar matanya ketika kami merancang sebuah lay-out ruangan untuk filantropi pengadaan ambulan gratis, tanda setuju dengan ide itu yang akhirnya kami kerja bersama-sama. Hemmm kecil sekali kontribusiku di acara itu,  dan dia terus bekerja.
Ya terus bekerja, bukan dengan “bekerja” yang ada dalam bayangan banyak orang, dengan gaji yang besar, sarana pendukung yang mumpuni bla..bla..bla. Bekerjanya “dia”   adalah terus melahirkan karya, dengan gaji yang tidak seberapa.  “Dia”  bahkan tidak sempat memikirkan diri sendiri, sekedar untuk memanjakan diri dalam arti foya-foya nggak ada dalam kamus pribadinya. Dia terus memberi dan berbagi, memikirkan penderitaan orang, ketika bertemu dengan peristiwa, selalu saja “dia”   bertanya “apa yang bisa aku lakukan untuk meringankan?”.  
Kegalauan itu lah yang mengantarkan dia ketempat yang barangkali tidak bisa kita jangkau, derajat syahid dan kematian yang indah, jumat beberapa pekan kemarin. Teringat wall di blognya “sayangilah makhluk yang ada di Bumi, maka Dzat yang ada dilangit akan menyayangimu” atau gambaran ke”sepi”annya di wall facebooknya, “Jika tidak ada bahu untuk bersandar, selalu ada lantai untuk bersujud”.
Maka demikianlah gambaran galau, yang tingkat dewa sekalipun sebenarnya nggak penting banget, kecuali kegalauan atau lebih tepatnya keprihatinan itu diletakkan untuk memikirkan keadaan saudara kita, berbagi untuk meringankan penderitaan mereka.
Selalu saja kita menjadi lemah, bila merasa menjadi korban keadaan. Menjadi subyek sebuah peristiwa pilu sekalipun lebih bermakna dan terhormat daripada  menjadi obyek sebuah pentas keglamouran.
Hidup cuma sekali, maka sayangilah semua manusia, apalagi manusia terdekatmu, sekalipun untuk melakukannya harus galau tingkat dewa. Semoga bisa jadi amal terbaik kita. (iogy baskara)


Selasa, 04 Februari 2014

Robohnya Gubuk Kami (bagian 1)

“apa yang ada jarang disyukuri... apa yang tiada sering dirisaukan.. 
..nikmat yang dikejar .. barulah terasa bila tidak didalam genggaman..” 
Sebuah lirik nasyid tua yang terngiang-ngiang ditelinga, seperti menghempas ingatan ke masa lalu. Jeritan papan tangga yang berderik-derik kala diinjak, tentang sebuah interkom tua-box plastik kombinasi warna krem dan merah maroon, tergantung di sudut pemberhentian anak tangga, suaranya khas melengking setiap ada panggilan dari masjid yang melolong-lolong kala ada panggilan telpon dari keluarga penghuni gubuk kayu. Semua melintas berulang-ulang. Kami tinggal di sebuah kompleks taman luar biasa dengan sebuah masjid yang berdiri kekar dan sebuah asrama gubuk kayu dua lantai yang bersahaja. Gubuk kayu kami waktu itu menghadap sebidang padang rumput yang dibeberapa tempat ditumbuhi cai sim, tomat, cabe hasil karya beberapa kakak kelas kami. Bahkan di ujung utara ada dua kolam ikan yang tanggulnya dihiasi ubi jalar dan terong.

 Didekat pintu masuk ada sebatang pohon jambu mente yang tumbuh miring, bersebelahan dengan kran air tempat kami biasa cuci kaki sebelum masuk rumah. Hampir tidak pernah henti “grudal-gruduk” suara kaki berlarian naik turun tangga yang acap kali memancing protes penghuni lantai bawah. Disamping kanan ada sebidang tanah kosong tempat kami biasa menambatkan tali jemuran, berbanyak-banyak mengibarkan bendera warna-warni dengan berbagai bentuk yang meyakinkan. Disebelah belakang ada dapur tempat lomba bertempur balapan masak. Ada sebuah meja besar yang selalu berhias macam-macam model potongan pepaya dengan ornamen biji-biji yang berceceran. Bila sudah habis daging buahnya tinggal kulitnya yang berceceran kesana-kemari. Entah siapa pihak yang paling bertanggung jawab hingga saat ini belum terungkap.

Bila masuk pintu utama, akan disambut dengan ruang tamu ukuran sedang berlantai karpet. Disanalah kami biasa mengaji disetiap malam harinya. Nggak setiap malam sebenarnya.. kadang kami harus menunggu ustadz datang sampai terkantuk-kantuk. Bila beliau-beliau terlambat pun kami tetap menyambutnya dengan suka cita,kami memaklumi karena rumah beliau yang jauh dari pondokan kami ini. Ustadz Muhibbin, yang datang dengan motor Honda Astrea prima, atau ustadz Haris yang mengendarai Suzuki super cup warna merah menyala. Ada Ustadz Amar Syamsi, Ustadz Yunan yang ahli tajwid Qur’an ada lagi ustadz Tamim Azis, ustadz muda dengan kemampuan membina yang luar bisa walau dalam waktu yang tak begitu lama sempat menjadi mentor kami. Karena tidak setiap malam ustadz bisa datang mengisi kajian, tapi tidak begitu terasa sepi karena ada saja diskusi kecil, dan terkadang debat kusir antara beberapa kakak angkatan yang hobi baca. Biasanya diskusi itu berlangsung di lantai atas didepan TV tua milik Lejar Pribadi. Sebuah TV teknologi masa kini yang dilengkapi feature touch screen dan touch body, kalau nggak bisa di sentuh pelan seringnya harus ditabok supaya bisa nyala dan supaya semut-semut dilayar nya bisa menepi. Seringnya saking ramenya diskusi malah TV-nya yang terbengong-bengong melototin mereka yang saling adu argumen sampai malam hari. Apalagi kalau aktor utamanya lagi on.... Agus “Gus Dur” Pribadi, sastrawan muda yang sudah mulai menumpuk koleksi puisi dan antologi saat ini.

 Begitulah semuanya berlangsung dan berlalu secara sederhana. Kami adalah orang-orang yang sederhana yang tinggal di gubuk-gubuk sederhana. Generasi datang dan pergi membawa cerita dan mimpi yang bervariasi, namun hampir semuanya membawa siluet yang sama, hanya beberapa gelintir dari kami berasal dari keluarga yang sedikit berada. Maka berbagai pertarungan kehidupan pun dipergelarkan untuk mempertahankan asa dalam meraih mimpi. Sebagian dari kami ada yang menerapkan puasa senin kamis, entah demi wasilah permohonan atau hanya sekedar supaya berhemat pengeluaran. Atau dengan pola makan PMDK-Program Makan Dua Kali. Sarapannya dibuat surut menjelang dhuhur, sedangkan makan siangnya dibuat telat mendekat maghrib. Ada juga yang berhati-hati menumpuk nota makan di Bu Man, yang akan dilunasinya setiap mendekati akhir bulan, ada yang dengan riang bermodal nasi dan rice cooker, memburu lauk-sayur di rumah makan. Atau bertahan berhari-hari makan dengan kangkung yang tumbuh subur dikolam, yang diramu dengan bumbu pecel, atau sekedar “gesek (ikan teri)” goreng dengan nasi hasil masak di rice cooker (he..he.. kalau ini aku). Terkadang bila deposit berasnya agak melimpah maka dengan tenang di biarkan saja dimeja agar siapa saja bisa ikut makan. Tapi kalau deposit beras dan doku-nya menipis sampai harus disembunyikan agar bisa bertahan untuk ganjal perut seharian ( aduh ya.... maaf). Kalau lagi goreng ikan teri, baunya semerbak, pasti menggemparkan seisi gubuk mengundang reaksi isi perut dan air liur yang luar biasa. (he...he... bom kimia). Demikianlah jamak terjadi karena walaupun banyak diantara kami menerima beasiswa, tapi tentunya tak sebesar masa kini, beasiswa bidik misi. (bersambung)

Senin, 03 Februari 2014

Lorong

Gelap panjang seakan tak berujung, becek dan dingin. tak sedikitpun berkas cahaya terlihat. yang kulangkahkan bersama kakiku adalah mata hatiku.. bagaimana tidak, bahkan mataku bagai tak berguna hanya hitam. tidak!! bahkan tangankupun bekerja juga, meraba apakah ada percabangan-percabangan lorong didepan. lelah.. ku pun berhenti, entah dimana ini, ditengah ketiadaan. didalam senyapku pun berfikir.. memang manusia modern macam aku ini sekali-kali harus seperti ini.
Mataku terlalu silau dengan kilau listrik dimalam hari.. kekhusukan malam bahkan hilang lenyap sama sekali.otakku bahkan tidak lagi bisa medeteksi mana malam mana siang, keduanya sama-sama silau bagiku, jauh disudut mataku seolah terlihat bagaimana khusyuknya Syaikh Ibnu Taymiyyah menarikan jari-jemarinya menulis kitab didalam remang cahaya, bagaimana Umar bin abdul aziz menerima tamunya hanya dengan sepotong lilin, malam seperti itu bagiku adalah malam keindahan, temaram tanpa cahaya yang menyilaukan.
Teringat ketika aku terdampar disebuah desa yang terpencil disudut kebumen, DESA PENCIL.. sungguh desa yang terpencil, siangnya adalah berpeluh keringat disawah, malamnya adalah bercengkrama bermandikan cahaya bulan... tiada lampu.. tiada televisi... hanya beberapa nyala api teplok yang menarii... Teringat ketika aku terdampar di tengah hutan kalimantan... hutan kelapa sawit, MENTAYA HULU KALIMANTAN TENGAH.. malamnya bagaikan kelap-kelip keindahan, sorot-sorot berkas cahaya bulan, sesekali kunang-kunang berkelebat lalu hilang..tida listrik disini yang ada adalah ketenangan...dan yang paling kuingat ketika itu adalah tangisan kerinduanku, aku akan berpisah dengan telaga kehidupanku walau hanya sementara waktu. WAJA'ALNA-LLAYLA LIBAASA. (AMMA jus 30)-anis

Sangkaan Baik Pada Allah

Senantiasalah selalu menyandarkan pilihan kepada Allah Dialah Dzat yang memperjalankan
waktu Ditangan-Nya lah setiap takdir tertulis
Sebab kehidupan ini tidak lain adalah pilihan-pilihan adalah pilihan bila pada akhirnya kita menempuh jalan sebagai seorang muslim adalah pilihan bila pada hari ini ternyata kita sudah menjadi seorang bapak, suami, kakek.... namun itu adalah sekaligus takdir kita, sebuah suratan yang telah terjadi
begitulah keistimewaan kita menjadi seorang anak manusia kita mendapatkan anugrah berupa masyi'ah apakah itu? ia adalah kehendak, kehendak untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh
sebagai apakah kita akan berakhir maka sejalan itulah pilihan-pilihan kita dicenderungkan sebagai ahlul jannah kah kita berakhir maka sejalan itulah pilihan-pilihan kita dicenderungkan atau.. sebagai ahlunnaar kah kita berakhir maka sejalan itulah pilihan-pilihan kita dicondongkan
maka.. Ya Allah , anugerahkan kepada kami khusnul khotimah sebuah akhir yang terbaik, menjadi golongan kanan maka condongkanlah selalu pilihan-pilihan kami kepada yang terbaik terbaik di sisi pandangan-Mu .. Ya Rabb..
Bila senantiasa kepada Allah kita sandarkan pilihan-pilihan dalam urusan dunia kita dan akhirat kita
maka senantiasa tiada penyesalan... karena sudah pasti apa yang Allah pilihkan adalah yang terbaik
Allaahumma inny astakhiruKa bi'ilmi Ka Wa as taqdiruKa bi qudrotiKa Wa as aluKa min Fadhlikal adziem (anis)