Senin, 29 Desember 2014

Ekspedisi Taman Nasional Bukit Raya bukit Baka 2014 (1) - Jangan Sombong : Sebuah Pelajaran Pertama



Sambil berjalan gontai, perlahan aku langkahkan kaki merayapi jalur yang menanjak terjal dan berlumpur. Kaki rasanya sudah semakin berat, mungkin otot-otot kaki sedang beradaptasi karena sebelum berangkat ekspedisi aku tidak punya cukup waktu untuk persiapan fisik sekedar jogging dan streching. Sepatu safety yang aku pakai, terasa basah dan berat karena baru saja menyeberang sungai sedalam lutut... tidak sempat buka sepatu karena tidak cukup waktu, matahari sudah semakin surut. Beruntung di pos bayangan tadi menyempatkan shalat, kalau tidak .... bisa dipastikan dhuhur ashar bakal lewat.

Aku rogoh HP, sudah pukul 17.30, ternyata sudah mendekati maghrib dan belum ada tanda-tanda dekat dengan lokasi CAMP Kedua-Muara Dahie yang kami tuju. Dua orang dari Pramuka didepanku sudah tidak nampak lagi, sedangkan dua orang tim penyapu dibelakang memburu-buruku untuk lebih gesit lagi bergerak. Sebentar-sebentar aku berhenti untuk mengatur napas... Beban di carrier ku ini memang super berat setelah aku tambahkan rangsum berupa beras, rangsum TNI, sarden, kopi dan mie instant. Benar-benar tidak seperti yang dibayangkan, informasi yang aku dapat sebelumnya katanya tiap peserta didampingi oleh porter yang membawakan rangsum peserta. Mungkin porter yang didapat kurang atau peserta yang kebanyakan jadi aku gak kebagian porter. Melihat barang bawaan yang dibawa para porter... nggak tega rasanya untuk nitip rangsum kepada mereka... 25 atau 30 Kg mungkin total berat carrierku. Entah kenapa tidak terpikir untuk meninggalkan saja sebagian rangsum selama perjalanan tadi. Aku pikir seberapa pun rangsum yang didapat, tetap harus dibawa, kalau kita kelebihan bisa dibagi kepada yang lain yang kehabisan.

Jalan berlumpur, membuat semakin hati-hati dalam melangkah. Hati bahagia sekali kalau ada batang pohon yang melintang bisa dipakai sekedar duduk menarik napas daripada duduk di tanah, selain malas berurusan dengan lintah yang banyak di tanah, bakalan berat lagi untuk berdiri mengangkat badan dan bawaan. Tim Penyapu semakin giat lagi menyemangatiku agar bergerak cepat... “Yah mereka bisa saja bergerak cepat, karena cuma bawa badan doang”.. gerutuku dalam hati. Hari memang sudah gelap, angin bertiup tanda sebentar lagi hujan turun. Aku keluarkan senter dari tas pinggang sambil bergerak perlahan. Dubbrak.... nah betul juga , saat turun di turunan yang curam jatuh juga aku akhirnya.. untung tangan masih bisa menyambar batang rotan yang menggelantung. Sebelah sisi kanan turunan curam menuju sungai. Kaki kiriku tersangkut diatas, sedangkan kaki kanan beserta badan merosot kebawah dengan posisi split. Achhh.... terasa nyeri di pangkal paha, sobek juga akhirnya celana yang kupakai. Aku paksakan untuk bangun dan berjalan lagi menyusuri tanjakan di depan.. Kaki kananku tambah nyeri dan tambah berat, tempurung lutut kanan tadi nampaknya sempat terhantuk batu.

Aku putuskan untuk berhenti dulu... Bersandar pada akar pohon aku duduk dan coba mengurut kaki, pangkal pahaku kram tidak bisa bergerak. Saat tim penyapu tiba mereka memintaku segera melanjutkan perjalanan. Saat aku bilang sedang kram, dan meminta mereka untuk ditinggal saja, akhirnya mereka bersedia. Sesaat aku diam dan mematikan senter. Aku ingin menghela napas dan tenggelam dalam kegelapan. Aku jadi ingat kalau tadi siang tidak sempat makan siang. Tiba di Ujung Blok jalan kaki karena mobil Strada jemputan malah rusak ditengah jalan, setelah itu ambil rangsum, packing ulang barang, langsung jalan. Permen dan sebagainya terperosok ditas paling dalam, sehingga sepanjang jalan hanya minum air saja. “Eh... pantas badan lemes nggak ada tenaga”. gumamku. Ini adalah pelajaran pertama yang Allah kasih untukku. Ini mungkin berkat kesombongan yang sedikit banyak mungkin sempat hinggap didalam hatiku.

Orang sering mengidentikkan sombong dengan sifat yang suka pamer dan merasa lebih dari orang lain. Walau tidak salah, ada pengertian sombong yang lebih tepat yaitu sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Sikap menganggap ringan inilah yang menimpaku saat melangkahkan kaki pertama mengikuti ekspedisi ini. Awalnya aku sempat berfikir 2200 m dpl tentu bukan jarak yang terlalu tinggi, bila dibandingkan beberapa gunung yang dulu sempat di daki sewaktu masih di Jawa dulu. Tetapi ada yang aku lupakan bahwa, bila di Jawa, desa tertinggi memang sudah pada tempat yang tinggi, jadi umumnya pendakian ke puncak dilakukan sore dan paginya sudah dapat menikmati sun rise di puncak, jalurnya umumnya lebih baik karena sudah sering dilewati pendaki. Beda tentu situasinya di Bukit Raya, Ujung blok tempat kami mulai jalan mungkin masih di ketinggian 300 an m dpl sedangkan puncak 2200 m dpl. ..belum lagi jalur yang menuruti sungai naik dan turun bukit, track menembus hutan hujan tropis yang masih perawan dengan lantai berlumpur yang licin. Semua ini diluar perhitunganku, ditambah lagi beban bawaan yang overload maka lengkap sudah. Maka jauh didasar hatiku aku berbisik “Astaghfirullahal Adziim – ampuni hambamu ya Allah yang sudah mengecilkan ciptaanMu. yang bahkan dapat Engkau maknai aku mengecilkanMu. Laa ilaha Illa anta inni kuntuminadzaalimiin”. Tak terasa air mata meleleh..... Duduk menyendiri dikeheningan seperti ini, memanjakan mata dengan gelap memang menjadikan hati lebih peka. Ya Allah aku berjalan mendekatiMu menuju keridhlaanMu.

Sambil istirahat aku pukul-pukul kaki yang kram, sudah mulai lemas kram ototnya. Agak jauh aku lihat samar-samar ada sorot lampu senter, herannya kok nggak bergerak, mungkin ada rombongan di depan. Aku putuskan untuk meninggalkan rangsum di situ, dengan begitu bawaan akan semakin ringan, daripada meninggalkan tas seluruhnya. Aku segera bangkit, alhamdulillah tas terasa jauh lebih ringan, bergerak perlahan aku mencari jejak kaki dengan senter. Sempat beberapa kali aku menyorotkan senter kebelakang dan ke atas, karena ada desiran dahan yang teratur mengikutiku setiap aku bergerak. Pada mulanya aku mengira dahan yang begoyang karena angin, tapi anehnya suara goyangannya teratur sebagaimana aku bergerak. Kalaupun ada yang mengikutiku pasti bukan peserta karena aku peserta terakhir yang masih di track, bisa jadi orang “ot” yang mengikutiku. Memang dalam technical meeting malam sebelum berangkat di Desa Tumbang Habangoi, Pak Visur (kepala adat) menyampaikan bahwa Bukut raya merupakan hutan keramat yang masih dihuni oleh orang-orang Ot. Mereka dikenal sebagai suku Ot Danum, hidup dihutan dan tidak mau berbaur dengan suku yang lain. Kalau penduduk di Tumbang Habangoi termasuk suku Ot Dohoy jadi masuk termasuk rumpun Suku Dayak Ot, bahasa mereka juga agak berbeda dari bahasa dayak yang biasa aku dengar. Bahasa Dayak yang sering dipakai masyarakat biasanya Bahasa Dayak Ngaju (Kahayan), Dayak Kapuas, Dayak Manyan (barito) dan Banjar.

Ciri-ciri Suku Ot Danum mereka berkaki merah dan memiliki kelebihan mampu beradaptasi dihutan dengan cara bergerak dari dahan ke dahan. Beberapa pantangan di hutan Bukit Raya yang disampaikan Pak Visur antara lain larangan merubah dahan-dahan yang bengkok, memukul pohon dan membakar ikan Sapan Kesuhuy dan Sapan Dungan, nama sejenis ikan yang hidup di perairan deras yang belang dua dan belang tiga. Suku Ot Danum memiliki penciuman dan daya ingat yang tajam, mereka bahkan dapat mengingat nama-nama orang yang mereka awasi dari jauh. Maka tidak heran bila sewaktu-waktu di hutan Bukit Raya ada orang yang dipanggil namanya oleh suara yang tidak terlihat. Tidak terilihat bukan karena mereka sejenis siluman atau makhluk halus tapi karena memampuan mereka bersembunyi dan bergerak cepat di hutan. Jadi seberapa sering aku sorotkan senter ke atas pasti nggak bakalan terlihat. Tapi aku yakin mereka ada.

Kalau memikirkan Suku Ot Danum ditengah hutan sendirian, dimana waktu mulai bergerak malam memang bikin nyali ciut, tapi karena kita tidak mengganggu mereka, maka merekapun pasti sebaliknya. Aku sempat berbisik pada mereka, “Ma (paman), permisi pinjam jalannyalah, saya cuma pinjam sedikit saja. Hutan piyan (anda) masih Luas”. Aku terus menyusuri jalan setapak dengan senter yang sudah mulai meredup baterainya. Senter ini seharusnya di recharge kemarin di Tumbang Habangoi, setelah saya pakai berkelana mencari Air Terjun Sungai Musang. Sebuah perjalanan dadakan, karena semula kami (saya dan Abdurrahman-teman dari Pagatan) hanya berniat mandi, demi mendengar ada air terjun, rasa penasaran akhirnya membawa kami kesana walau sudah sore hari. Resiko yang kami tanggung akhirnya kami kemalaman saat jalan pulan menyusuri sungai Musang. Di Tumbang Habangoi, listrik tenaga genset diesel baru malam hidup dan kebetulan ruang kelas SD tempat kami menginap tidak ada colokan akhirnya urung juga me recharge senter, akhirnya ketika dibutuhkan seperti ini senter dalam kondisi kurang prima.

Setelah agak lama bergerak menuruni track berbatu akhirnya aku sampai di sumber cahaya, ternyata dua orang Pramuka yang sedang istirahat. Aku sapa mereka dan kami akhirnya terlibat dalam obrolan yang hangat, ternyata nasib mereka sama denganku, beban bawaan yang berat yang akhirnya menguras tenaga dan mereka akhirnya memutuskan akan berkemah disitu. Mereka menawarkan kopi hangat dan mie instant... yah kesempatan, karena semua rangsum sudah aku tinggal ditempat jadi tidak tersisa kecuali sediaan roti dan permen di dasar tas. Aku putuskan bergabung dengan mereka menginap malam itu, dua tenda yang mereka bawa muat untuk empat orang, jadi praktis nggak ada masalah. Aku bersih-bersih badan sekaligus inspeksi barangkali ada lintah yang menyelinap dibalik pakaian, dan akhirnya ketahuan robek besar dibagian pantat hingga selangkangan, segera ganti pakaian bersih-bersih dan mendirikan shalat. Kami istirahat ditempat yang belakangan kami ketahui bernama “batu kameleuh”. Kami beristirahat di bebatuan pinggir sungai, suara gemericik air dan beberapa kali kecipakan air menandakan banyak ikan yang berukuran besar hidup disitu. Setelah shalat aku iseng menyorotkan senter ke seberang sungai, kaget juga melihat ada mata-mata berkilauan diseberang sana. Aku amati betul-betul ternyata seekot anak pelanduk. Bingung kali ya.. Si anak pelanduk. Ngapain malam-malam ada manusia disitu. Batu Kameleuh dikenal sebagai tempat keramat, terdapat dua batu besar disungai yang katanya masing-masing ada penunggunya sepasang laki-laki dan perempuan. Kami tidak tahu sama sekali mengenai informasi itu, jadi berasa biasa saja disana.
Badan yang letih dan kantuk yang mulai menyerang, kami memutuskan segera mendirikan tenda. Ketika satu tenda berdiri hujan mulai turun, kami berpindah ke tempat yang lebih tinggi agar selamat bila sewaktu-waktu air meluap. Ketika bersiap memindahkan barang kedalam tenda, tiba-tiba ada sorot beberapa lampu senter yang mendekat, ternyata Pak Abdurrahman beserta empat orang porter, mereka menjemput kami untuk dibawa ke Camp Kedua- Muara Dahie. Semula kami berkeras untuk tinggal, karena tenda juga sudah siap berdiri, tapi mengingat jerih payah mereka serta hujan yang mulai turun dengan deras maka kami akhirnya menuruti keinginan mereka. Segera setelah membongkar lagi tenda dan merapikan barang maka kami bergerak naik kembali. Barang bawaan kami di bawa oleh porter, sehingga kami dapat bergerak dengan cepat. Beberapa saat kedepan kami sudah akan menikmati hangatnya selimut, meluruskan punggung. (bersambung)