Selasa, 04 Februari 2014

Robohnya Gubuk Kami (bagian 1)

“apa yang ada jarang disyukuri... apa yang tiada sering dirisaukan.. 
..nikmat yang dikejar .. barulah terasa bila tidak didalam genggaman..” 
Sebuah lirik nasyid tua yang terngiang-ngiang ditelinga, seperti menghempas ingatan ke masa lalu. Jeritan papan tangga yang berderik-derik kala diinjak, tentang sebuah interkom tua-box plastik kombinasi warna krem dan merah maroon, tergantung di sudut pemberhentian anak tangga, suaranya khas melengking setiap ada panggilan dari masjid yang melolong-lolong kala ada panggilan telpon dari keluarga penghuni gubuk kayu. Semua melintas berulang-ulang. Kami tinggal di sebuah kompleks taman luar biasa dengan sebuah masjid yang berdiri kekar dan sebuah asrama gubuk kayu dua lantai yang bersahaja. Gubuk kayu kami waktu itu menghadap sebidang padang rumput yang dibeberapa tempat ditumbuhi cai sim, tomat, cabe hasil karya beberapa kakak kelas kami. Bahkan di ujung utara ada dua kolam ikan yang tanggulnya dihiasi ubi jalar dan terong.

 Didekat pintu masuk ada sebatang pohon jambu mente yang tumbuh miring, bersebelahan dengan kran air tempat kami biasa cuci kaki sebelum masuk rumah. Hampir tidak pernah henti “grudal-gruduk” suara kaki berlarian naik turun tangga yang acap kali memancing protes penghuni lantai bawah. Disamping kanan ada sebidang tanah kosong tempat kami biasa menambatkan tali jemuran, berbanyak-banyak mengibarkan bendera warna-warni dengan berbagai bentuk yang meyakinkan. Disebelah belakang ada dapur tempat lomba bertempur balapan masak. Ada sebuah meja besar yang selalu berhias macam-macam model potongan pepaya dengan ornamen biji-biji yang berceceran. Bila sudah habis daging buahnya tinggal kulitnya yang berceceran kesana-kemari. Entah siapa pihak yang paling bertanggung jawab hingga saat ini belum terungkap.

Bila masuk pintu utama, akan disambut dengan ruang tamu ukuran sedang berlantai karpet. Disanalah kami biasa mengaji disetiap malam harinya. Nggak setiap malam sebenarnya.. kadang kami harus menunggu ustadz datang sampai terkantuk-kantuk. Bila beliau-beliau terlambat pun kami tetap menyambutnya dengan suka cita,kami memaklumi karena rumah beliau yang jauh dari pondokan kami ini. Ustadz Muhibbin, yang datang dengan motor Honda Astrea prima, atau ustadz Haris yang mengendarai Suzuki super cup warna merah menyala. Ada Ustadz Amar Syamsi, Ustadz Yunan yang ahli tajwid Qur’an ada lagi ustadz Tamim Azis, ustadz muda dengan kemampuan membina yang luar bisa walau dalam waktu yang tak begitu lama sempat menjadi mentor kami. Karena tidak setiap malam ustadz bisa datang mengisi kajian, tapi tidak begitu terasa sepi karena ada saja diskusi kecil, dan terkadang debat kusir antara beberapa kakak angkatan yang hobi baca. Biasanya diskusi itu berlangsung di lantai atas didepan TV tua milik Lejar Pribadi. Sebuah TV teknologi masa kini yang dilengkapi feature touch screen dan touch body, kalau nggak bisa di sentuh pelan seringnya harus ditabok supaya bisa nyala dan supaya semut-semut dilayar nya bisa menepi. Seringnya saking ramenya diskusi malah TV-nya yang terbengong-bengong melototin mereka yang saling adu argumen sampai malam hari. Apalagi kalau aktor utamanya lagi on.... Agus “Gus Dur” Pribadi, sastrawan muda yang sudah mulai menumpuk koleksi puisi dan antologi saat ini.

 Begitulah semuanya berlangsung dan berlalu secara sederhana. Kami adalah orang-orang yang sederhana yang tinggal di gubuk-gubuk sederhana. Generasi datang dan pergi membawa cerita dan mimpi yang bervariasi, namun hampir semuanya membawa siluet yang sama, hanya beberapa gelintir dari kami berasal dari keluarga yang sedikit berada. Maka berbagai pertarungan kehidupan pun dipergelarkan untuk mempertahankan asa dalam meraih mimpi. Sebagian dari kami ada yang menerapkan puasa senin kamis, entah demi wasilah permohonan atau hanya sekedar supaya berhemat pengeluaran. Atau dengan pola makan PMDK-Program Makan Dua Kali. Sarapannya dibuat surut menjelang dhuhur, sedangkan makan siangnya dibuat telat mendekat maghrib. Ada juga yang berhati-hati menumpuk nota makan di Bu Man, yang akan dilunasinya setiap mendekati akhir bulan, ada yang dengan riang bermodal nasi dan rice cooker, memburu lauk-sayur di rumah makan. Atau bertahan berhari-hari makan dengan kangkung yang tumbuh subur dikolam, yang diramu dengan bumbu pecel, atau sekedar “gesek (ikan teri)” goreng dengan nasi hasil masak di rice cooker (he..he.. kalau ini aku). Terkadang bila deposit berasnya agak melimpah maka dengan tenang di biarkan saja dimeja agar siapa saja bisa ikut makan. Tapi kalau deposit beras dan doku-nya menipis sampai harus disembunyikan agar bisa bertahan untuk ganjal perut seharian ( aduh ya.... maaf). Kalau lagi goreng ikan teri, baunya semerbak, pasti menggemparkan seisi gubuk mengundang reaksi isi perut dan air liur yang luar biasa. (he...he... bom kimia). Demikianlah jamak terjadi karena walaupun banyak diantara kami menerima beasiswa, tapi tentunya tak sebesar masa kini, beasiswa bidik misi. (bersambung)