Rabu, 05 Februari 2014

Mari Berbincang 90 menit Saja





Sudah lazimnya seseorang senang dengan hal-hal yang baru. Mobil baru, rumah baru suasana baru bahkan tantangan-tantangan baru. Suasana kebaruan itu menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebelumnya. Rasa dalam menikmatinya tentu lebih berlipat sensasinya dibanding yang biasa. Bagaimana dengan tahun baru?. Tahun yang baru membawa kita pada kesadaran bertambahnya umur kita dan tentu saja berkurang usia yang tersisa. Nah bagaimana sensasi anda dalam menikmati tahun yang baru kali ini. Bila kita mau membuka sedikit kesadaran kita akan usia, maka satu hal yang pasti terjadi dalam hidup ini adalah akhirnya. Bagaimana pun cara kita menghindar maka akhir dari hidup itu pastilah datang, barangkali itu tidak jadi masalah karena sudah jadi salah satu kemestian dalam hidup. Masalahnya adalah kedatangan kematian itu sungguh tidak terduga, tidak ada satu pun orang yang hidup dimuka bumi sekarang ini tahu kapan dan dimana dia akan meninggal. Disinilah titik kesadaran itu mulai dibuka. Kita tunda dulu untuk memperbincangkan kematian. Kaitannya dengan tahun baru tentu kita memiliki banyak harapan kemudahan dan jalan terang dalam kehidupan kita ditahun mendatang. Salah satu harapan terbesar adalah kita mendapat umur yang panjang dan meraih sukses besar dalam kehidupan. Betapa banyak orang yang berusaha tetap awet muda dengan berbagai cara, suntik silikon, operasi plastik - adalah sedikit diantara caranya, menjadi bukti betapa manusia ingin memperlambat datangnya tua dan selalu berharap masih dijauhkan dari kematian. Betapa banyak orang membangun banyak benteng keamanan untuk memastikan jauh dari resiko kematian. Namun mesti kita ingat betapa nikmat usia ini adalah sebagian dari nikmat yang dilupakan manusia. Orang yang berada dipuncak “kesuksesan dan kemakmuran” merasa akan hidup selamanya, menjadi lupa bahkan mendustakan ada kehidupan panjang yang menghampar didepan. Mereka ini adalah tipe orang yang tertipu dan berada dalam musibah yang paling memilukan, karena sesungguhnya sekiranya umur mereka didunia ini 60 tahun, maka perhitungan disisi Allah hanya SATU SETENGAH JAM saja. Satu setengah jam = sembilan puluh menit, apa yang dapat kita lakukan dengan waktu sependek itu?. Sedangkan waktu kita untuk nonton TV atau sekedar ngobrol sambil ngopi-ngopi barang kali lebih panjang durasinya dari sekedar satu setengah jam. Bahkan bagi sebagian saudara kita satu setengah jam itu hanya cukup untuk pulang pergi menuju tempat kerja, sependek itu. Allah berfirman dalam Q.S. Al Hajj: 44 “Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu (tahun) menurut perhitunganmu”. Siapa diantara kita sementara ini yang bisa hidup seribu tahun? Mari kita buka catatan manusia tertua didunia yang pernah tercatat di Guiness Book of Record? Dalam catatan terbaru, manusia tertua saat ini yang diakui Guiness Book of Record adalah Feroz un Din Mir dari Kashmir (141 tahun). Bagaimana dengan umur rata-rata manusia hari ini?. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Umur ummatku antara enam puluh dan tujuh puluh tahun (HR. Tirmidzi, hadits Hasan) dengan demikian bila kita buat persamaan 1000 tahun dunia = 1 hari akhirat ; 1000 tahun dunia = 24 jam akhirat maka 60 tahun dunia = 1.5 jam akhirat. Cukup 90 menit saja yang terasa begitu lama, namun akan jadi sekejap. Sembilan puluh menit yang menentukan. Dengan demikian sebesar apapun harapan kita memiliki umur panjang apalah gunanya bila “umur kronologis” saja yang kita kejar? Seberapapun hitungan tahunnya tidak ada artinya disisi Allah SWT sebagaimana yang disitir Allah dalam Q.S. Al Baqoroh : 96. “dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan”. Berikutnya adalah harapan sukses besar dalam kehidupan. Mari kita lihat sukses macam apa yang memenuhi sensasi kepuasan manusia. Memiliki rumah yang luas, penuh dengan segala macam kolam, kolam ikan, kolam renang, kolam air panas. Kalaupun pada akhirnya bisa terpenuhi maka pasti timbul lagi keinginan membeli rumah yang baru lagi, demikian terus tidak ada habisnya sebagaimana disitir dalam sebuah syair “dunia ibarat air laut, diminum hanya menambah haus”. Mari kita lihat berapa sih harta orang terkaya di dunia saat ini? Orang terkaya didunia versi Majalah Forbes adalah Charles Koch dengan kekayaan Rp.331 triliun, benarkah sudah menjadi orang terkaya sepanjang zaman? Diatas langit pasti ada langit. Kita bandingkan dengan kekayaan Abdurrahman bin Auf konglomerat hebat sahabat Nabi SAW. Berapakah kekayaan yang diwasiatkan saat beliau meninggal? Untuk setiap istri dari keempat istrinya, beliau mewariskan 80.000 dinar (belum termasuk kekayaan unta, dan hewan ternak lain), maka dengan perhitungan sederhana minimal beliau meninggalkan harta 2.560.000 dinar, bila di kurs dengan rupiah maka hasilnya mencengangkan, senilai Rp. 5.273,6 triliun. Pada hal harta itu sudah dikurangi wasiat untuk ahli badar, para istri nabi, dll yang jumlahnya tidak sedikit. Maka bila kita jadikan cermin kesuksesan, apa arti kekayaan orang zaman ini?. Sukses hakiki adalah sukses menurut ukuran yang benar, sebab bila salah membuat patokan maka akan jadi salah semua hasilnya. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali Imran: 185 “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. Bila seseorang dijauhkan dari neraka kemudian dimasukkan kedalam surga itulah sukses yang sebenarnya oleh dihadapan Allah dan seluruh makhluk. Kembali bicara masalah kematian, sebagaimana ayat diatas setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kematian adalah proses dimana nyawa direnggut dan dicabut dari jasad. Kita rasakan nyawa merata diseluruh badan sehingga semua bisa bergerak dan merespon. Bila satu ujung jari kita terpotong maka saat itulah nyawa ujung jari tercabut dan kita merasakan sakit yang luar biasa sangat. Bagaimana lagi rasanya orang yang dioperasi tanpa anestesi. Rasa sakit yang timbul itu akan terasa dalam kesadaran, sehingga setelah sakit yang amat sangat, maka berikutnya akan hilang rasa setelah hilangnya kesadaran. Maka kita dapat membayangkan bagaimana derita sakitnya saat nyawa direnggut dari badan, sehingga ketika tidak lagi terasa sakit maka alam bawah sadarlah yang akan mengambil kendali diri kita. Nah ketika saat itu datang akankah Allah hadir dalam alam bawah sadar kita?. Untuk memastikan jawaban pertanyaan itu maka mari sembilan puluh menit yang kita punya ini, kita makmurkan dan kita isi dengan mengejar kesuksesan terbesar dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surganya Allah SWT. (ditulis ulang dari Kajian SII-Ust A. Thoha Husein /ANIS)