Selasa, 26 Agustus 2014

Bersyukur Walau Pada Selembar Daun


Sudah berjalan tiga bulan ini, 3 jam sehari, 160 km perhari ditempuh dengan sukses lancar. Alhamdulillah. Allah telah memberi karunia umur dan kesehatan sehingga hingga kini masih segar dan mampu menikmati kehidupan. Detik-detik kosong disaat mengendara motor bisa digunakan untuk mengulang-ulang bacaan Al Qur'an yang sudah aku tuliskan dalam ingatan. Baru sedikit surat memang, tapi sanggup mengisi kosongnya waktu menyusur jalan Palangkaraya-Kasongan. Terkadang detik itu aku isi dengan memutar ulang rekaman kajian Ustadz Muhibbin yang beberapa filenya tersimpan di hape jadul ku, HP Huawei warna biru. Hape yang tak tertandingi harganya di seluruh muka bumi, karena nggak ada yg sanggup membelinya (karena nggak bakalan dijual) atau malah nggak ada yang bakalan beli heh...heh...heh.

Dua minggu terakhir perjalanan rutinku ini  sering terganggu. Bukan gara-gara traffic light yang nyalanya merah melulu.... (karena memang nggak ada traffic light disini) bukan pula gara-gara jalan yang macet. (jalannya kosong blong.... kalau VR46 mbah Rossi  rela meminjamkan M1 nya barang sehari mungkin jalan ini bisa jadi pengganti sirkuit Misano karena saking sepinya)...Bukan juga karena macet di perempatan atau karena truk mogok di tanjakan ( karena jalannya mulus lurus dan nggak ada tanjakan.. Beberapa kali perjalanan pulang pergi terganggu karena asap. (asap beneran bukan asap knalpot)

Beberapa areal lahan di sebagian ruas jalan sedang terjadi kebakaran hebat. Kalau dilihat  mungkin karena kejadian alam (sebagian kecil benar) tapi aku yakin sisanya terbakar karena memang dibakar. Ya memang kebakaran itu terjadi karena ada api oksigen dan bahan bakar (mengutip pertanyaan kuis di stand BLH Katingan).... alam memang bisa memantik api dengan gesekan dahan dimusim kemarau, tapi lebih besar kemungkinannya bila api itu timbul karena ada orang yang sengaja membakar, atau buang puntung rokok sembarangan (bukan kencing sembarangan). Sebagian besar lahan yang terbakar (baca: dibakar) itu memang sudah kering sebelumnya, kering karena disemprot obat gulma. Maka memang mendekati benar kalau tebakannya lahan itu dibakar orang.

Kita di bumi ini kan memang hidup diantara banyak kelompok makhluk. Kalau ada orang yang membakar lahan, maka sebenarnya setelah Allah, maka tumbuhan itu kelompok makhluk yang paling besar marahnya. Bayangkan, tiap detik tumbuhan itu bekerja keras, sudah berhasil mereka, dimusnahkan kembali sama makhluk yang namanya manusia, termasuk jasad mereka dimusnahkan pula.

Kawan, dan kawal.  Allah itu setiap detik sibuk bekerja  (Q.S Ar Rahman : 29). Tumbuhan makhluk ciptaan-Nya pun demikian. Setiap detiknya mereka bekerja keras, mengikat Karbon, segala Nitrogen  dan zat lain yang ada diudara diikat dan dikonversi ke dalam tanah. Kerja keras mereka itu membuahkan tanah yang hidup, yang berangsur-angsur menjadi subur.  Mereka memindahkan kehidupan kepada tanah. Jadi tidak seluruhnya benar anggapan tumbuhan itu membutuhkan tanah, tanahpun sebaliknya karena ia bisa ada karena ada tumbuhan. Kita ingat asal mula kejadian semesta ini, ketika bumi masih berupa gas panas yang berangsur-angsur dingin, ketika dinginnya berupa batu dan pasir, maka tumbuhan lumutlah yang oleh Allah di tumbuhkan disana, lumut bekerja mengikat  semua zat untuk dipindahkan ke tanah... begitu terus berjalan hingga tanah itu menjadi ada dan di kenal. Ingat bro  kita-kita ini kan berasal dari tanah... maka berterima kasihlah kepada lumut.... bersyukurlah kepadanya walaupun ia hanya makhluk remeh.. Barangsiapa yang tidak mampu bersyukur pada makhluk, maka dia tak akan mampu bersyukur pada Tuhan).

Tumbuhan dengan Fotosintesis A dan B, dengan reaksi gelap dan terangnya telah membuat itu semua mungkin. sebab setahu saya yang masih bodoh ini, belum ada mesin pengikat C udara menjadi C terikat di tanah, atau pengikat N atau yang lain. karena kalau ada, si pembuat mesin itu pasti orang yang sangat bodoh buang waktu, tenaga dan resource, karena Allah sudah membuatkan untuk kita.

Memang ia hanya selembar daun kawan, tapi luar biasa. Dibalik kulitnya ada mesin yang luar biasa canggih. di selembar daun itulah proses ajaib itu terjadi dengan 100% efisien. Energi itu 100 terkonversi. Nggak percaya?  Fotosintesis itu terjadi setiap hari. Coba pagi hari sempatkan untuk menyentuh selembar daun apa saja nggak usah lama 3 menit saja. Nggak panaskan? Coba bandingkan dengan kulkas, pegang sisi kanan atau kiri kulkas, panas kan? atau... coba pegang mesin motor yang  sedang berjalan kalau perlu knalpotnya?... (pasti melepuh ha...ha...ha...). kulkas menjadi panas, bohlam lampu menjadi panas, semuanya karena konversi energi tidak efisien, tidak semua energi listrik dikonversi menjadi energi pendingin, ada yang bocor berupa energi panas.  Maka itulah hebatnya teknologinya si Daun ini... benar-benar effisien. Oleh tumbuhan, energi itu sebagian disimpan di daun, sebagian lagi di simpan di buah, ada yang di salurkan ke akar, menjadi N, P, C yang terikat di tanah..Bukan itu saja, kalau daun itu mati dan layu. dahan itu patah dan jatuh ketanah. dibantu bakteri pembusuk, maka semuanya terurai menjadi zat organik, yang menghidupkan tanah. daun busuk adalah tempat hidup yang nyaman bagi cacing dan bakteri.


Proses yang berlangsung tanpa putus setiap harinya sedikit-sedikit yang membukit . Di musnahkan dan di nafikan oleh manusia dalam waktu sekejap saja. Maka ketika daun, dahan itu semua terbakar, segera saja bahan penyusun utama tumbuhan utama nya C.... (karbon) akan lepas lagi ke udara.
Di bumbui oleh polesan kapitalis global, maka datanglah program-program lingkungan macam REDD+, USAID dsb..... Lepasnya Karbon, akan bikin atmosfir kita bertambah panas, Kutub utara selatan segera mencair, meningkatnya permukaan lautan, yang berarti menyusutnya permukaan daratan.... he..he... apakah akan kita vonis sebagai kiamat?

Cukuplah berbuat yang remeh kecil dan sederhana, bersyukurlah pada tanaman, ketika kita bertemunya tersenyumlah, bila bertemu dengan jasadnya, dahan yang patah, daun yang mengering, atau bertemu potongan daunnya yang segar yang kita pangkas atas nama kerapian dan estetika maka hormatilah ia dengan menguburnya baik-baik ke tanah. Sebab itu akan mengabadikan kebaikan dan jasa tumbuhan.. akan mengalirkan kehidupan kembali ke tanah..... asal mula kita.

Jangan kita bakar, ... kuburkan yang baik.

Jangan kita kuburkan plastik dan turunannya, karena itu akan meracuni tanah.... asal mula kita.
Sayangi tanah.... asal mula kita. Sayangi bumi tempat kita berbagi.
Karena Dia sayang pada siapa yang berbuat kebaikan di muka bumi. dan benci pada siapa yang membuat kerusakan di dalamnya.

Out of topics, turut berbahagia atas kemenangan saudara kita di Gaza, Merdeka ( lagi) Gaza,..
Gaza merdeka (lagi) mulai hari ini..