Jumat, 29 Agustus 2014

Kalau Lagi Malas Tetap Mau Shalat Kan?


Disebuah mobil, dalam satu perjalanan singkat aku terlibat dalam sebuah percakapan ringan dengan seorang teman. Entah kenapa percakapan itu sempat membahas masalah shalat. Ada satu cetusan teman itu yang hingga ini masih aku ingat lekat,
 "Aku ni memang masih bolong-bolong shalatnya, tapi mungkin lebih baik begitu. Aku memilih nggak shalat daripada shalat tapi sambil malas".
Sekilas memang logis saja ungkapan seorang teman itu. Untuk Tuhan kita harus memberi yang terbaik bukan? Kalau nggak bisa ya mending jangan. Diantara anda tentu ada yang setuju dan sepemikiran dengan kawan saya itu. Tapi begini kawan dan kawal, dunia ini memang dihiasi dengan berbagai tipuan. Dunia ini ibarat fatamorgana, apa yang kita anggap benar, bukan kebenaran, yang tidak kita suka bisa jadi sebuah kebenaran. Bagaikan seorang pengembara bergegas mendatangi telaga untuk mengentaskan dahaga, namun apa daya ternyata yang ia kejar hanya fatamorgana.

Tertipu. Tentu saja kita tidak mau. Kita manusia ini memang dilahirkan sempurna (Q.S. At Tiin : 4). Namun kita lahir didunia yang tidak sempurna, sehingga kesempurnaan kita adalah ketidak sempurnaan. Kita diberi kebebasan untuk memilih mana yang terbaik menurut kita (Q.S. As Syams : 8). Namun Allah memuji kaum yang menjaga kesucian dengan memilih ketaqwaan, dan mengecam kaum yang memilih jalan kenistaan (Q.S. Asy Syams : 9-11).

Pasti, kita ingin memberikan yang terbaik untuk Allah, sehingga tak mungkin kan kita beribadah serampangan. Tetapi bila kemudian kita urung beribadah karena jiwa kita sedang capek, diri kita sedang malas, apakah itu solusi?

Kawan, ketahuilah bahwa kewajiban dalam agama kita ini memiliki dua nilai. Pertama, Penggugur kewajiban. Sehingga bila hari ini kita satu waktu saja tidak melaksanakan shalat Subuh misalnya, maka selama-lamanya itu akan dianggap sebagai hutang yang dituntut pembayarannya. Dan bila kita melaksanakannya artinya kewajiban kita sudah hilang dari daftar checklist-nya. Kedua, dengan menunaikan kewajiban itu kita akan mendapatkan kebahagiaan, keberkahan, ketenangan dan pahala. Kita akan bisa merasakan rahmat Allah SWT. 

Jadi bagaimana mas bro dan mbak sista? sudah pahamkan jadinya, maka setelah ini kawan pasti akan berubah pikiran, masih mending shalatkan (walau ada malas-malasnya) daripada tidak selama syarat rukun shalatnya terpenuhi sehingga sudah tunai hutang kita kepada Allah.
(emang enak ditagih seumur-umur sama malaikat he..he..he...)

Apalagi kalau kita tengok kewajiban shalat ini bila kita tunaikan akan menumbuhkan sesuatu yang LUAR BIASA. Masih ingatkan tulisan saya dimuka , kalau kita ini sempurna dalam ketidak sempurnaan, atau ketidaksempurnaan dalam kesempurnaan? Kita ini makhluk yang pada dasarnya enggan, jiwa kita inipun bisa lelah dan galau. Maka dari itu apapun yang kita lakukan termasuk amal kebaikan kita tidak ada yang sempurna. Maka shalat hadir untuk menyempurnakan yang tidak sempurna itu. Sebab shalat adalah ibadah pertama yang diaudit oleh Allah. Bila baik shalat kita maka akan dianggap baik semua amalan ibadah kita (HR Thabrani). Maka baiknya shalat kita akan menutup kekurangan ibadah yang lain. Maka shalat itu ibarat wajah ibadah kita dihadapan Allah SWT.

Status.... eh ada apa pula dengan status? Ya tapi ini bukan status facebook mas bro. Ini masalah status kita dihadapan Allah. Mulai detik ini kita harus meningkatkan intensitas hati kita untuk merenungi bagaimana status kita di hadapanNya. Nah masalah shalat ini punya pengaruh besar. Karena shalat ini adalah batas terluar dari pengakuan status kemusliman kita dihadapan Allah SWT. (HR Muslim no. 978). Bagaimana pula kalau kita salah terka, menganggap diri kita ini muslim, tapi Allah menolak ke-Islaman kita.  Nah lho...... sesuatu  banget kan?

Maka kita dihadapkan selalu pada tiga kemungkinan. Jiwa malas dan nggak shalat, Jiwa malas dan mendirikan shalat, Jiwa semangat dan mendirikan shalat.
 (lha pilihan jiwa semangat nggak mendirikan shalatnya mana? | kalau ngaku semangat tapi nggak sholat ya... artinya malas.... tapi terselubung  he...he..he..)
Dari tiga pilihan itu pasti kita ingin supaya jiwa kita selalu semangat dan mendirikan shalat kan? pasti itu. Tapi kalau pas datang malas kita maka tetaplah shalat, karena ia adalah penyembuh luka (termasuk luka hati) dan obat dari kegalauan. Sebagaimana sabda Nabi kepada Bilal r.a.agar dia mengumandangkan adzan.
"Wahai Bilal istirahatkan jiwa kami dengan shalat"
Nikmati shalat, karena itu sarana Allah mengenali kita. Shalat adalah istirahat kita dan saat untuk rekreasi. Mengkreasikan kembali kehidupan kita. Bila hati dan dunia ini sedang kacau maka shalat adalah saat yang tepat bagi kita untuk pergi sejenak dan kembali dengan kepala tegak dan hati yang tegar. Bila saat ini dunia kita adalah dunia yang membahagiakan, maka shalat saat yang tepat bagi kita untuk merenung bahwa jauh di depan ada kehidupan yang penuh siksaan dan kehidupan yang penuh kebahagiaan sehingga kita bisa bersyukur dan bisa mambuat rencana agar terhindar dari bencana akhirat. Sederhana sekali bukan? Yah... hidup memang sederhana dan untuk dinikmati.  (iogy-b@skara)